marhensa

Origin of Palestine - Israel Conflict

Jul 11th, 2014
357
0
Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
text 16.77 KB | None | 0 0
  1. Konflik itu mulai terjadi pada saat berlangsungnya Perang Dunia Pertama.
  2.  
  3. Perancis dan Inggris memiliki keinginan untuk melakukan ekspansi ke Timur Tengah, tepatnya di sekitar Laut Mediterania, yang merupakan jalur dagang yang sangat ramai dan menguntungkan jika dikuasai, karena siapapun yang menguasai jalur itu, maka mereka mampu mengendalikan jalur dagang ke India.
  4.  
  5. Inggris memulai kontrolnya di Mesir, Terusan Suez, dan harus berhadapan dengan Kekaisaran Ottoman (Kekhalifahan Islam terakhir: Turki Usmani) untuk merebutnya.
  6.  
  7. Setelah Turki Usmani mulai lemah dan kehilangan kontrol atas wilayah-wilayahya. Perancis dan Inggris melancarkan berbagai strategi untuk memecah-mecah Timur Tengah menjadi bagian-bagian kecil, negara-negara kecil independen, yang membuat Turki Usmani semakin kewalahan untuk mempertahankan kontrolnya atas Timur Tengah.
  8.  
  9. Sebelumnya Turki Usmani memiliki cakupan wilayah yang sangat besar di Timur Tengah. Salah satunya adalah Suriah Usmani (Ottoman Syria), yang jika dilihat di peta sekarang ini mencakup Suriah, Lebanon, Yordania, dan Israel (dan juga Palestina).
  10.  
  11. Provinsi ini berhasil dipecah menjadi dua oleh Inggris dan Perancis menjadi dua bagian, yang tertuang dalam perjanjian Sykes-Picot. Perancis menguasai wilayah utara, dan Inggris wilayah Selatan.
  12.  
  13. Untuk mencegah menguatnya lagi kontrol Turki Usmani, mereka memecah wilayah tersebut menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
  14.  
  15. Maritime Christian, kawan dari Perancis, mendapatkan tanah mereka di wilayah Perancis tersebut (wilayah utara). Sejalan dengan berlangsungnya waktu wilayah Maritime Christian tersebut terpecah menjadi dua dengan terbentuknya negara Lebanon (dinamakan dari Bukit Lebanon), terbentuknya Lebanon ditengarai oleh adanya rasa persamaan agama dan suku dari masyarakat setempat.
  16.  
  17. Sedangkan kawan dari Inggris, merupakan suku-suku dan klan-klan Arab pecahan Turki Usmani, mereka dijanjikan kekuasaan dan politik yang pada akhirnya berujung pada konflik berkepanjangan. Pemain penting dari suku tersebut adalah Hashemite (Keturunan Hashim, dinamakan seperti itu karena merupakan keturunan dari keluarga Rasul. Hashim Ibnu Abdul Manaf adalah kakek buyut Nabi Muhammad SAW, namun Hashemite lebih luas dikenal sebagai kaum dari garis keturunan Fatimah, putri Rasul). Hashemite menguasai wilayah Hejaz di Semenanjung Arabia.
  18.  
  19. Perlu diingat, perjanjian Sykes-Picot adalah perjanjian rahasia dalam rangka membagi-bagi kekuasaan Timur Tengah untuk kepentingan Imperialis Barat. Suku-suku arab tersebut tidak mengetahui perjanjian tersebut. Barat sengaja mengadu domba suku-suku Arab dan memecah-mecah kekuasaan Turki Usmani untuk kepentingan Barat. Perjanjiian itu dilakukan oleh Inggris, Perancis dan sepengetahuan dari pemerintahan Tsar Rusia.
  20.  
  21. Di saat bagi-bagi kekuasaan dan politik pecah belah di Timur Tengah itu dilakukan. Terjadilah revolusi di Eropa Timur. Rusia mengalami revolusi yang berujung pada tumbangnya kekaisaran Tsar, dan kemudian lahirlah Republik Sosialis Soviet. Soviet "membocorkan" atau lebih tepatnya mempublikasi perjanjian kotor dari rezim sebelumnya tersebut kepada forum Internasional.
  22.  
  23. Terjadilah gejolak, suku-suku Arab yang sebelumnya adalah kawan Inggris merasa diadu domba. Suku Saudi melancarkan aksi penaklukan kembali Semenanjung Arab, dimulai dari wilayah Kuwait. Suku Hashemite terdesak dan kalah oleh suku Saudi. Di tahun 1925 Saudi memegang kontrol wilayah Timur dan Pusat dari Semenanjung Arabia, dan kemudian mendirikan Negara Saudi Ketiga, yang sampai sekarang dikenal sebagai Saudi Arabia.
  24.  
  25. Hashemite kehilangan kontrolnya di Semenanjung Arabia. Namun Inggris memberikan suaka dengan memberi mereka dua kerajaan baru: satu di IRAK dan satunya lagi di Utara Semenanjung Arabia, lebih tepatnya di sisi timur Sungai Yordania, yaitu sekarang bernama YORDANIA.
  26.  
  27. Mulai memanas.
  28.  
  29. Suku Hashemite terpusat di Amman, yang kemudian dinamakan Trans-Jordania, yang memiliki arti "Sisi lain dari Sungai Yordania". Setelah Inggris menarik kekuasaannya di tahun 1948 (setelah Perang Dunia Kedua usai), wilayah ini bernama Yordania dan dipimpin dan didiami oleh suku Hashemite.
  30.  
  31. Diulang sekali lagi, Hashemite (keturunan Fatimah) kalah dan terusir dari Suku Saudi dan kemudian diberi suaka ke Irak dan Trans Jordan (sisi Timur Sungai Yordania)
  32.  
  33. Sedangkan di sisi Barat sungai Yordania (PALESTINA-ISRAEL) adalah salah satu wilayah pecahan Kekuatan besar Turki Usmani jaman dahulu, wilayah tersebut didiami oleh penduduk setempat (yang juga merupakan suku Arab, yang memiliki kesamaan dengan suku Hashemite). Ini adalah suatu alasan mengapa banyak ahli sejarah mengatakan suku Arab yang mendiami Palestina dan suku Arab di Yordania sebenarnya adalah satu kesatuan dalam sudut pandang kesukuan, yaitu orang-orang Hashemite, yang mereka mengaku sebagai garis keturunan Nabi.
  34.  
  35. Kembali ke jaman Turki Usmani. Semenjak pemerintahan Turki Usmani, suku-suku Yahudi yang sebelumnya menetap di Eropa *telah* melakukan migrasi ke wilayah Barat Sungai Yordania tersebut (ke Palestina), di bawah *ijin* dari pemerintahan Turki Usmani. Mereka melakukan migrasi untuk bergabung dengan komunitas Yahudi (yang hanya sedikit pada awalnya di sana), komunitas tersebut telah ada selama ratusan tahun. Migrasi ini merupakan bagian dari Jewish National Movement, yang dikenal sebagai Zionist Movement yang bertujuan untuk membentuk Negara Yahudi di wilayah TEPI BARAT (West Bank) SUNGAI YORDANIA.
  36.  
  37. Yahudi Eropa menggalang dana dan *membeli* sebagian kecil tanah dari wilayah kekuasaan Turki Usmani yang dikuasai oleh tuan-tuan tanah yang ada di Kairo dan sekitarnya (tuan-tuan tanah tersebut memainkan permainan tanah di bawah kekuasaan Turki Usmani).
  38.  
  39. Lama-kelamaan, penduduk Arab setempat di Tepi Barat tergusur. Dari sudut pandang Yahudi Eropa, hal ini bukan suatu masalah, karena ini adalah "Bussines as Usual", sebuah bisnis yang sah, jual beli tanah yang dibiarkan oleh Turki Usmani itu sendiri (sebelum tumbang). Sedangkan dari sudut pandang suku Arab di sana, itu merupakan sebuah ancaman dan serangan bagi kehidupan mereka selanjutnya.
  40.  
  41. Suatu hal yang awalnya hanya merupakan transaksi tanah real-estate, berujung konflik dan menjadikan wilayah tersebut terpecah.
  42.  
  43. Setelah Turki Usmani tumbang, Inggris-Perancis hengkang dari Timur Tengah, dan setelah Perang Dunia Kedua usai, hal ini semakin parah.
  44.  
  45. Pada Perang Dunia Kedua, Nazi Jerman dengan ideologi ras unggul Arya miliknya mengakibatkan suku Yahudi yang dipandang bukan manusia (sub human), dibantai dan terusir. Hal ini berdampak serius pada konflik yang sudah mulai membara di Tepi Barat. Berdampak pada membanjirnya imigran yang amat banyak ke wilayah Tepi Barat tersebut, dan mereka menjadi penduduk mayoritas di sana.
  46.  
  47. Pada saat akhir Perang Dunia Kedua, adalah eranya Nasionalisme., Arab adalah salah satu bagian wilayah di dunia ini yang tak luput dari Euforia tersebut.
  48.  
  49. Syria (Suriah) mendeklarasikan sebuah Negara, dan memandang wilayah Lebanon, Jordania dan Palestina (Tepi Barat) merupakan bagian sejarah Syria. Syria mengungkit lagi Perjanjian Sykes-Picot yang merupakan pelanggaran serius dari integritas wilayah Syria Raya. Syria menganggap Sykes-Picot merupakan awal dari terpecahnya negara-negara Arab. Syria menganggap berdirinya Negara Jordania dan Lebanon tidak sah, dan merupakan wilayah kesatuan Syria, begitu pula berdirinya Negara Yahudi di Tepi Barat. Syria menganggap semuanya itu satu kesatuan Negara Syria.
  50.  
  51. Selain Syria yang sedang memiliki semangat Nasionalisme yang berkibar-kibar untuk menyatukan negara-negara Arab. Jordania juga mengalami semangat yang sama. Inggris sebelumnya memberikan Mandat Pembagian Jordania tahun 1948, yang jelas memisahkan dua wilayah, yaitu Tepi Barat dan Jordania. Dengan munculnya Nasionalisme, Jordania mulai melakukan klaim atas Tepi Barat. Jordania mengklaim bahwa Tepi Barat dari dahulu juga merupakan satu kesatuan dari Jordania.
  52.  
  53. Di sini intrik semakin menjadi.
  54.  
  55. Jordania, dalam usahanya mengklaim wilayah Tepi Barat tentunya ditentang oleh penduduk Arab setempat (orang-orang Palestina). Di suatu sisi suku Hashemite (Jordania) menganggap orang-orang Palestina memiliki kesamaan silsilah dan "mengajak" bergabung menjadi Negara Jordania yang meliputi Tepi Barat dan Jordania, di sisi lain orang-orang Palestina menentang hal tersebut, menganggap orang Jordania adalah pendatang yang diberi wilayah oleh Inggris di sisi Timur sungai Jordania.
  56.  
  57. Arab Jordania vs Arab Palestina, and enemy of my enemy is my friend.
  58.  
  59. Jordania memandang banyaknya Kaum Yahudi Eropa yang mulai menetap di Tepi Barat adalah sebuah jaminan keamanan atas perlawanan Jordania terhadap orang-orang Palestina. Jordania tidak pernah menginginkan adanya negara independen Palestina yang merdeka, yang bisa mereka dapatkan sepanjang 1948 sampai 1967. Bahkan pada 1970 Jordania melakukan pertumpahan darah terhadap Palestina, memaksa Organisasi Pembebasan Palestina keluar dari Jordania dan terbuang ke Lebanon.
  60.  
  61. Peristiwa tersebut dinamai sebagai Black September, yang kemudian disusul oleh perang lainnya, Perang Saudara di Lebanon. Perang Saudara tersebut disusul dengan invasi Syria ke Lebanon (ingat, Syria masih menganggap Lebanon adalah bagian dari Syria Raya, efek Nasionalisme) dan kemudian menghancurkan Organisasi Pembebasan Palestina dan Fatah. Seperti halnya Jordania, Syria juga tidak ingin menerima konsep adanya Negara Palestina.
  62.  
  63. Ini adalah sumber ketegangan utama antara Syria, Lebanon, Hizbullah, Jordania, dan Palestina berasal.
  64.  
  65. Ini rumit, negara muslim non-arab sering memandang: "Mengapa negara-negara Arab tidak membantu Palestina? Mengapa negara Arab saling klaim wilayah?" Menurut saya ini adalah konflik berkepanjangan yang merupakan salah satu dosa Barat di masa lalu dalam melakukan taktik memecah belah (ingat Perjanjian Sykes-Picot).
  66.  
  67. Mesir malah ikut memperkeruh suasana.
  68.  
  69. Di samping konflik yang sudah cukup rumit dan aneh di sana, Mesir juga bersikap tidak mengakui adanya Negara Palestina. Di tahun 1948 pasukan Mesir merangsek Gaza. Karena Mesir (lagi-lagi karena Nasionalisme) memandang Gaza adalah bagian dari Semenanjung Sinai, bagian dari Mesir.
  70.  
  71. Pada tahun 1952, Gamal Abdel Naseer mulai bersinar dan berkuasa di Mesir. Ambisinya jauh lebih mengguncangkan.
  72.  
  73. Dia memiliki visi terbentuknya REPUBLIK ARAB SERIKAT yang sekular dan sosialis. Konsep ini hampir jadi kenyataan pada tahun 1958 di saat Mesir dan Syria bergabung membentuk sebuah Federasi.
  74.  
  75. Federasi tersebut tentu menjadi ancaman bagi Jordania. Kerajaan Hasemite sebagai pemimpin Jordania bersatu dengan Irak membentuk aliansi tandingan.
  76.  
  77. Irak dan Jordania, atas dasar persamaan suku Hashemite, suku yang dulu terasing dikarenakan Saudi, suku yang kemudian diberi suaka ke Jordania dan Irak, akhirnya bergabung membuat federasi tandingan yang dinamakan FEDERASI ARAB.
  78.  
  79. Simpelnya begini:
  80. (Mesir + Syria)
  81. versus
  82. (Jordania + Irak)
  83.  
  84. Namun aliansi Jordania dan Irak ini segera tumbang, karena pemimpin suku Hashemite di Irak gagal mengendalikan kudeta nasionalisme oleh militer Irak sendiri.
  85.  
  86. Mimpi Naseer akan terbentuknya United Arab Republic (Republik Arab Serikat) semakin menjadi-jadi, tak hanya Mesir dan Syria menjadi satu Federasi. Mimpi Naseer tersebut juga memandang Palestina sebagai bagian dari Federasi ini.
  87.  
  88. Jika dilihat dari segi spasial, Mesir + Syria jauh terpisah, dan Palestina adalah wilayah yang akan menghubungkannya.
  89.  
  90. ***
  91. Mesir dan Syria bisa dikatakan posisinya unggul saat ini.
  92. Irak tumbang dikudeta, dan Jordania kewalahan sendirian.
  93. Sedangkan Palestina bimbang terjepit diantara perang kekuasaan di sekelilingnya
  94. ***
  95.  
  96. Dan pada saat inilah peran Yaseer Arafat mulai muncul dan beraksi.
  97. Yaseer Arafat bergabung dengan Nasser (Mesir) untuk mempromosikan Nasionalisme Arab yang satu.
  98.  
  99. Kunci utama dari Nasionalisme Arab adalah *pengakuan* Palestina, terlepas merdeka atau tidak namun yang pasti adalah adanya pengakuan.
  100.  
  101. Kemudian hal yang semakin rumit terjadi..
  102. Saudi Arabia ikut dalam percaturan.
  103.  
  104. Perlu diingat visi dari Mesir untuk membentuk Republik Arab Serikat yang sekuler dan sosialis adalah suatu ancaman dan bertentangan dengan kerajaan monarki Saudi Arabia yang konservatif di Semenanjung Arab.
  105.  
  106. Mesir bersama Syria ingin menghilangkan sistem monarki yang ada di Saudi, seperti halnya kerajaan monarki Hashemite yang tumbang di Irak oleh kudeta militer nasionalis.
  107.  
  108. Konflik Amerika Serikat dan Uni Sovyet pasca Perang Dunia Kedua mengakibatkan adanya Perang Dingin, salah satunya adalah saling dukung kekuatan dari pihak-pihak negara lain yang sedang bertikai. Hal ini juga terjadi di Arab.
  109.  
  110. Di suatu sisi, ada Republik Arab Serikat yang sosialis (Mesir + Syria), yang didukung oleh Uni Sovyet.
  111. Di sisi lain, ada Saudi Arabia yang monarki dan konservatif, yang didukung oleh Amerika Serikat.
  112.  
  113.  
  114. Perlu diingat bahwa Nasionalisme Palestina yang merdeka bukan hanya soal kemenangannya melawan Israel. Nasionalisme Palestina merepresentasikan sebuah tantangan bagi negara-negara Arab.
  115.  
  116. Dua pihak yang bersatu, Mesir dan Syria, memiliki satu pandangan namun perbedaan dalam hal Palestina.
  117.  
  118. Syria melihat Palestina+Israel, Jordania, Lebanon adalah sebuah Syria Raya (dulu pernah dikenal adanya Negeri Syam). Syria mengklaim semua itu adalah wilayahnya, dan terpecah-belah akibat Perjanjian Sykes-Picot.
  119.  
  120. Mesir dengan pemikiran Naseer untuk membentuk Republik Arab Serikat, bersatu dengan Syria yang terpisah secara geografis, dihubungkan oleh Palestina+Israel.
  121.  
  122. Beda kepentingan atas Palestina oleh Mesir dan Syira ini:
  123. - Demi sisi historis Negeri Syam ala Syria
  124. versus
  125. - Demi ekspasi teritori ala Mesir
  126. mengakibatkan adanya ketidaksepahaman yang berujung ketidak jelasan akan dikemanakan Palestina nantinya oleh kedua Negara tersebut.
  127.  
  128. Di sini Saudi Arabia ikut bermain sembari demi mempertahankan sistem monarkinya yang tidak disukai oleh Mesir (Naseer dengan gagasan sosialis-sekuler miliknya untuk lebih tepatnya).
  129.  
  130. Lalu suku Hashemite di Jordania juga khawatir, kerajaan Hashemite terakhir itu bisa tumbang jika Palestina mulai bangkit.
  131.  
  132. ---
  133. Mesir dan Syria : Sama-sama ingin menguasai Palestina+Israel
  134. Irak : Tumbang oleh kudeta
  135. Jordan : Tetap tidak ingin Palestina bangkit
  136. Saudi : Tidak ingin Palestina dikuasai oleh Mesir
  137. ---
  138.  
  139. Inti utamanya memang Palestina bertikai dengan Israel, namun jika Israel kalah dan musnah. Mesir, Syria, Jordania, dan Saudi akan langsung bertikai satu sama lain.
  140.  
  141. Berakhirnya pendudukan Israel tidak menjamin Palestina sebagai negara merdeka yang diakui, tantangan Palestina masih panjang.
  142.  
  143. Perlu diingat, ini belum membahas politik Timur Tengah yang sangat berubah beberapa tahun terakhir.
  144.  
  145. Irak = Pengkudeta kerajaan Hashemite saling serang, dan digantikan rezim Saddam Hussein, kemudian seperti yang kita tahu, Saddam akhirnya tumbang juga, Irak sekarang tidak stabil
  146. Mesir = telah terjadi revolusi
  147. Jordan = telah terjadi revolusi
  148. Syria = telah terjadi revolusi
  149.  
  150. Dan juga melihat adanya pergerakan akhir-akhir ini di Timur Tengah yaitu ISIS: Islamic State of Iraq and Sham.
  151. (Negara Islam Iraq dan Syam), yang kemarin diplesetkan logo benderanya oleh Jakarta Post. Karena kontrovesinya dalam perang saudara akhir-akhir ini. Organisasi ini yang ingin memunculkan lagi Kekhalifahan Islam di muka bumi ini. Dimana "Kekhalifahan" terakhir adalah Turki Usmani (Ottoman Empire), yang wilayahnya sangatlah luas dan akhirnya tumbang oleh politik pecah belah Barat, dan berbagai hal lain.
  152.  
  153. -----
  154. Kesimpulan mbuletnya:
  155. - Dulu Palestina tidak ada, hanya bagian kecil dari Ottoman Empire (Turki Usmani)
  156. - Penduduk Palestina dahulu mayoritasnya adalah suku Arab asli penduduk di Tepi Barat, dan komunitas Yahudi juga sudah ada di sana, namun minoritas.
  157. - Yahudi Eropa membeli sebagian tanah secara legal, di saat pemerintahan Turki Usmani (Ottoman Empire) masih berdiri
  158. - Perang Dunia Pertama, Timur Tengah terpecah-pecah
  159. - Turki Usmani akhirnya runtuh
  160. - Negara-negara Arab bermunculan hasil dari perpecahan oleh Inggris-Perancis, dengan kepentingan politiknya sendiri-sendiri
  161. - Perang Dunia Kedua mengakibatkan migrasi besar-besaran Yahudi Eropa ke Palestina
  162. - Negara-negara sekitar Palestina terkondisikan untuk tidak mendukung Palestina menjadi negara merdeka dan diakui.
  163.  
  164. ------
  165. Blundernya:
  166. Palestina / West Bank adalah wilayah peninggalan Turki Usmani, setelah Turki Usmani runtuh + setelah Perang Dunia Pertama usai dan arab terpecah-pecah, setelah Perang Dunia Kedua selesai dan membawa banyak Yahudi Eropa datang ke Palestina, Palestina belum dinyatakan merdeka dan menjadi negara, ditambah banyak negara sekitar tidak mengakui Palestina, Yahudi semakin kuat dan mendirikan Negara Israel.
  167.  
  168. -----
  169. Permasalahan Pendudukan Yahudi di Palestina dari Jaman Turki Usmani:
  170. - VERSI ARAB: Warga Arab di Palestina dahulu adalah mayoritas dari penduduk di Tepi Barat, namun komunitas Yahudi juga sudah ada di sana namun minoritas sampai akhirnya ada migrasi besar-besaran dari Eropa.
  171. - VERSI BARAT / ISRAEL: Warga Arab di Palestina adalah minoritas, kebanyakan orang Arab di Palestina adalah orang Jordania yang pindah dan mendiami ke Tepi Barat.
Advertisement
Add Comment
Please, Sign In to add comment