SHARE
TWEET

uLASAN BUKU BUNG KARNO

a guest Jul 16th, 2019 75 Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
  1. Judul                     : Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
  2. Penulis                 : Cindy Adams
  3. Jumlah Halaman  : 415 halaman
  4. Tahun Terbit        : Edisi Revisi, Cetakan Kelima 2018
  5. ISBN                     : 979-911-451-9
  6.  
  7.  
  8. Ir. Sukarno, atau yang lebih sering disapa Bung Karno, memang menjadi sosok yang sangat fenomenal di republik ini. Mulai dari anak kecil yang tengah mengenyam pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan orang dewasa pasti mengetahui tokoh yang satu ini.
  9.  
  10. Popularitas Bung Karno juga bisa dilihat dari begitu banyak masyarakat yang mengidolakannya. Hal ini terlihat dalam banyaknya wajah Bung Karno yang dijadikan lukisan, sticker, maupun dijadikan design kaus.
  11.  
  12. Sayangnya, kita hanya mengetahui tentang Bung Karno dan apa yang diperjuangkannya secara singkat dan sepintas. Jika mengetahuinya secara sepintas saja sudah membuat kita kagum akan kharisma dan wibawanya, maka jika kita semakin mengenalnya entah seberapa tinggi rasa kagum kita padanya.
  13.  
  14. Saya kira sudah banyak sekali buku-buku biografi tentang Bung Karno yang sudah ditulis. Rasanya saya selalu menemukan buku tentang Bung Karno yang selalu menghiasi rak buku kategori sosial-politik di berbagai toko buku. Pada tahun 2013 yang lalu, sebuah film dengan judul ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’ tayang di bioskop seluruh Indonesia.
  15.  
  16. Kendati film arahan sutradara kawakan tanah air, Hanung Bramantyo, ini pernah dikritik oleh putri Bung Karno sendiri, yaitu Rachmawati Sukarnoputri, rasanya kita tetap banyak sekali nilai-nilai luhur yang dapat kita teladani melalui film ini.
  17.  
  18. Buku yang akan saya bahas ini menceritakan secara lengkap kisah hidup Bung Karno, mulai dari kelahirannya sampai dengan kematiannya. Bung Karno terlahir dengan nama Kusno dari pasangan Jawa-Bali, Raden Sukemi Sosrodihardjo, berasal dari keturunan Sultan Kediri dan Idayu, keturunan bangsawan berkasta Brahmana (halaman 23).
  19.  
  20. Namun Kusno kecil sering sakit-sakitan, ayahnya berpikir bahwa nama tersebut tidak cocok. Kusno kecil kemudian diberi nama baru, nama dari pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata, yaitu Karna. Sejak saat itu nama Kusno diganti menjadi Karno.
  21.  
  22. Memasuki usai 15 tahun, Bung Karno berangkat ke Surabaya, indekos di rumah H.O.S Cokroaminoto yang terletak di Peneleh Gang 7. Selama tinggal di Surabaya inilah, Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh perjuangan yang terkenal di kemudian hari, misalnya Kartosuwiryo, Semaun, dan lain-lain.
  23.  
  24. Rumah H.O.S Cokroaminoto juga menjadi saksi bisu tempat Sang Singa Podium belajar berpidato. Pada Juni 1921, Bung Karno berangkat ke Bandung. Bandung menjadi tempat bagi Bung Karno belajar di THS, atau ITB sekarang. Karir politik awalnya juga berawal di kota ini.
  25.  
  26. Perjuangan Bung Karno juga digambarkan secara jelas dalam buku ini. Mulai dari perjuangannya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927 (halaman 95), hingga pengalaman Bung Karno harus duduk di kursi pesakitan karena orasinya yang beberapa kali mendapat perhatian polisi.
  27.  
  28. Pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun kepada Bung Karno yang kemudian diubah menjadi dua tahun. Selama menjalani masa hukumannya itu, ia ditahan di Penjara Banceuy dan kemudian dipindahkan ke Penjara Sukamiskin. Penjara Banceuy juga menjadi saksi bisu Sang Proklamator menulis sendiri pidato pembelaannya yang dibacakan di hadapan hakim ketika persidangan, pidato pembelaan itu diberi judul ‘Indonesia Menggugat’.
  29.  
  30. Penjara nyatanya tidak mampu merubah prinsipnya untuk terus berjuang bagi kemerdekaan negaranya. Ini menyebabkan Bung Karno harus ‘dibuang’ ke Ende. Ende membuatnya punya banyak waktu untuk merenung dan berpikir, tapi Ende juga membuatnya sakit. Ia terjangkit penyakit malaria. Bung Karno pun dipindahkan ke Bengkulu, di Bengkulu Bung Karno menjadi pendidik anak-anak.
  31.  
  32. Salah satu yang ia didik adalah Fatmawati, puteri Ketua Muhammadiyah setempat, Pak Hasan Din. Fatma ini lah yang kemudian ia nikahi kendati pernikahannya dengan Fatma harus membuatnya melepaskan Ibu Inggit Garnasih. Ia menjalani masa pembuangan ini hingga Jepang datang dan mengusir Belanda, seolah-olah memberikan harapan bagi Indonesia akan datangnya kemerdekaan yang telah lama dinantikan.
  33.  
  34. Jika di awal saya menyebut Bung Karno sebagai sosok yang fenomenal, ternyata Bung Karno juga adalah sosok yang kontroversial. Banyak dari kebijakannya yang menyebabkan banyak perdebatan, pro dan kontra. Hal ini terlihat jelas ketika era penjajahan Jepang, Bung Karno seolah-olah melakukan kerjasama dan terlihat begitu kooperatif dengan Pemerintah Jepang.
  35.  
  36. Tak heran banyak orang mencapnya sebagai kolaborator Jepang. Di satu sisi, Bung Karno menyadari kekuatan bangsanya, rasanya sangat tidak mungkin melawan Jepang secara membabibuta. Namun di sisi lain, Jepang semakin beringas dan terkesan memanfaatkan Bung Karno. Korban pun semakin banyak.
  37.  
  38. Tentunya kebijakan Bung Karno untuk bekerja sama dengan Pemerintah Jepang menjadi perdebatan banyak pihak waktu itu.
  39.  
  40. Perjuangan Rakyat Indonesia tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu, yaitu Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Upacara yang diadakan begitu sederhana. Tanpa dekorasi, hiasan, bahkan tanpa peralatan yang memadai. Upacara itu berlangsung pada tanggal 17 pagi setelah semalaman Bung Karno bergulat dengan penyakit malarianya yang kambuh karena terlalu lelah setelah pulang dari penculikan di Rengasdengklok dan perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
  41.  
  42. Upacara itu dilakukan secara cepat dan khidmat. Upacara itu bukanlah akhir. Itu adalah awal, awal perjuangan kita mengisi dan mempertahankan kemerdekaan kita.
  43.  
  44. Upaya-upayan dalam mempertahankan kemerdekaan tetap dilakukan. Ada yang berjuang secara fisik dan ada yang melalui jalur diplomasi. Puncaknya adalah ketika naskah pengakuan kedaulatan ditandatangani di Den Haag, Belanda. Sekali lagi, ini bukanlah akhir perjuangan, tetapi adalah awal dari perjuangan yang lebih sulit lagi. Seperti salah satu kutipan pidato Bung Karno yang mengatakan:
  45.  
  46.  “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih susah karena melawan bangsamu sendiri!”
  47.  
  48. Bagi saya pribadi, ketika membaca buku ini ada perasaan haru, bangga, sedih, dan marah pada saat yang bersamaan. Namun saya kira yang kita semua rasakan jika membaca buku ini adalah meningkatnya rasa nasionalisme kita. Beberapa kata-kata dalam buku ini juga dibuat secara puitis yang semakin membuat kita terharu sekaligus bangga dengan bangsa kita sendiri.
  49.  
  50. Saya kira ini adalah bacaan yang wajib dibaca terutama oleh generasi muda bangsa ini. Banyak hal dapat kita teladani dan ikuti terutama dalam kita mengisi kemerdekaan bangsa kita. Merdeka!
RAW Paste Data
We use cookies for various purposes including analytics. By continuing to use Pastebin, you agree to our use of cookies as described in the Cookies Policy. OK, I Understand
 
Top