F021

Kumpulan Drabble

Feb 28th, 2015
135
0
Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
text 5.98 KB | None | 0 0
  1. 1. 09,15,20,28
  2. ==09==
  3. Mata hijau sang gadis itu terpaku ke sebuah kalung emas berliontin batu kecubung. Tangan kirinya yang mungil berusaha untuk memegang kalung tersebut, sedangkan tangan kanannya memegang sepucuk surat kecil. Kalung yang dipakai oleh bibinya dulu, sekarang berada di tangannya. Diantara semua saudara-saudari bibinya itu, dia terpilih untuk memegang kalung itu - beserta isinya yang mungkin terperangkap di dalam batu kecubung itu.
  4.  
  5. Surat dari bibinya berbau vanilla yang khas, bau yang memang tidak pernah hilang dari tubuhnya, bahkan saat dia meninggal minggu lalu. Gadis bermata hijau itu membaui suratnya untuk sesaat. Lalu, dia membuka isi dari surat tersebut.
  6.  
  7. ---
  8. Untuk : Keponakanku, Cadence Williams.
  9.  
  10. Selamat, sayang. Kau mewarisi kalung kecubung ini.
  11.  
  12. Kalung ini adalah warisan turun-temurun keluarga kita. Sejak berabad-abad yang lalu, berpuluh-puluh orang sudah memakai aksesoris ini, dan mereka menurunkan kalung ini ke anak-anak mereka. Yah, walaupun kamu bukanlah anakku, namun kau adalah kandidat terdekat untuk mendapatkan barang ini.
  13.  
  14. Cadence, kalung ini menyimpan kekuatan besar di dalamnya. Aku harap, dengan kekuatan itu kau mampu membantu orang lain dan memberikan damai bagi keluargamu, terutama ayahmu. Namun, 'dia' akan mengujimu terlebih dahulu, sama seperti 'dia' mengujiku dan ayahku.
  15.  
  16. 'Dia' sudah menunggumu, sayang. Kenakanlah kalung itu saat kau siap, karena sekali kau mengenakannya dan mengenalkan dirimu, 'dia' takkan pernah pergi. Selamanya.
  17.  
  18. Bibimu tersayang,
  19. Stephanie.
  20. ---
  21.  
  22. ".... 'Dia'? Siapakah orang itu?" Tanya Cadence kecil kepada orang tuanya saat makan malam. Seketika, aura di meja berubah menjadi kelam, seperti awan mendung tiba-tiba muncul dan menudungi keluarga itu. Sang ayah, dengan mata hazel miliknya, menatap kalung dan surat yang diajukan putri tersayangnya.
  23.  
  24. "Caddy.. Sayangku, 'dia' adalah orang yang.. Unik. 'Dia' mempunyai kekuatan luar biasa yang tersimpan dalam kalung itu. Ayah pernah mengalami kekuatan itu sekali, namun Ayah tidak bisa mengalaminya lagi.. Beruntunglah dirimu, anakku."
  25.  
  26. Ibunya hanya menatap dari kejauhan, diam terpaku, rambut coklatnya berkilauan dibawah sinar lampu.
  27.  
  28. Cadence kecil tidak mengerti mengapa semua orang menatapnya dengan aura sejelek itu - hey, ini hanyalah sebuah kalung!
  29.  
  30. Jadi, saat dia akan tidur, Cadence memakai kalung itu dan tidur.
  31.  
  32. Dan 'dia' bertemu dengannya.
  33.  
  34. ---
  35. Cadence kecil terbangun di sebuah padang rumput hijau manyala. Bunga-bunga aneh berbentuk tangan menatap anak itu dengan mata di tengah-tengah 'telapak' mereka saat sang gadis mencoba untuk bangun.
  36.  
  37. Dan berdiri di tengah-tengah padang rumput itu, ada seorang wanita aneh yang menatap Cadence. Rambut cokelat yang sangat mirip dengannya melambai-lambai, menutupi mukanya kecuali mulut dan berlanjut hingga sampai di titik pinggang.
  38.  
  39. Anak belia itu menutup matanya - dan saat dia membukanya kembali, wanita aneh itu sudah berada di depannya.
  40.  
  41. "Halo, anak kecil." Suaranya lembut, mengalun di telinga Cadence.
  42.  
  43. "H-Halo, bu... N-nama ibu si-siapa?"jawabnya ketakutan.
  44.  
  45. "Kau bisa memanggilku... Entropica. Halo." Kata sang wanita aneh lagi, kali ini mengulurkan tangannya yang berlumuran darah. Cadence, walaupun ragu, menjabat tangan itu, yang ternyata sangat dingin bak es.
  46.  
  47. "Nah, karena kau telah ada disini, kaulah host terbaruku." Lanjut Entropica, tersenyum dan memamerkan luka di mukanya yang terus-menerus mengeluarkan darah. Dia menyentuh dahi Cadence.
  48.  
  49. Cadence terbangun di kamarnya tujuh jam kemudian. Dengan kalung berliontin kecubung yang masih melingkar di leher.
  50.  
  51. ==09 : Complete ==
  52.  
  53. ==15==
  54. "Berhentilah, berhentilah, berhentilah..." bisik Cadence kepadanya.
  55.  
  56. Tidak ada siapa-siapa di ruangan kecil itu ; hanya sebuah jam dinding yang selalu berdetak mengisi kesunyian.
  57.  
  58. Rambut panjang cadence terurai di belakangnya, tidak terurus. Sudah berhari-hari dia tidak mandi atau keluar dari kamar miliknya. Kantung mata menghiasi mukanya yang jelas pucat karena kurang tidur dan kurang nutrisi. Jemari-jemari kurusnya mencoba menutup telinga yang sudah memerah karena terlalu sering tertarik kesana-kemari.
  59.  
  60. 'Aku tidak akan berhenti sampai kamu mau menerimaku.' balas seseorang, entah dari mana. Namun, sekuat apapun Cadence menutup telinganya, dia tetap bisa berbicara lantang. Sedalam apapun Cadence mencoba menutup matanya, bayangan dirinya masih saja terlihat jelas.
  61.  
  62. "TIDAK! KAU ITU MENGERIKAN! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENERIMA KAMU!" Teriak gadis malang itu kepadanya.
  63.  
  64. Si suara terdiam untuk sesaat. 'Kau tahu, Cadence, kau tidak bisa hidup seperti ini. Mengapa kau begitu keras kepala? Kau tidak akan kuat menghadapinya kalau kamu tidak mau menerimaku.'
  65.  
  66. Sang gadis hanya berteriak sekuat tenaganya, memejamkan mata dan menutup telinga. Kakinya menendang-nendang, mencoba untuk kabur dan bersembunyi. Namun apa daya, tubuhnya sudah terkurung di sudut ruangan.
  67.  
  68. Menangis takkan berguna, karena air mata gadis itu sudah habis. Berteriak pun takkan berarti ; suaranya sudah hilang beberapa jam yang lalu. Pergi dari ruangan itu? Hah, berdiripun serasa beribu-ribu tangan mencoba untuk menarikmu jatuh ke bumi, ditambah ketiadaan jendela dan pintu di sekeliling dinding ruangan putih tersebut.
  69.  
  70. 'Mengapa kau begitu keras kepala?'
  71. --
  72. Ketukan pintu menyadarkan Cadence dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, seperti orang baru saja lari maraton. Setetes air mata tanpa sadar jatuh meluncur dari mata kirinya, membasahi sepetak kain di piyama putih miliknya.
  73.  
  74. "Candy, apakah kau baik-baik saja?" sahut seorang pria di balik pintu itu.
  75.  
  76. "Aku... Aku baik-baik saja, kak." balasnya, namun dia tidak baik-baik saja. Darah menggenang di kasurnya, yang berasal dari dua luka menganga di kedua lengannya. Dia tidak tahu darimana luka itu berasal - apakah dia membuatnya sambil tertidur? Ah, itu tidak akan mung-
  77.  
  78. "Tadi pagi, Ibu menemukan sesuatu di kamar mandi. Seseorang meminjam pisau dapur dan menggunakannya untuk memotong sesuatu.." si Kakak berkata dari balik pintu. "Apakah kau tahu siapa?"
  79.  
  80. "... Tidak."
  81.  
  82. "Oh, ya sudah..."
  83.  
  84. ==15 : Complete==
Advertisement
Add Comment
Please, Sign In to add comment