SHARE
TWEET

[workshop] 5. Peristiwa dalam Puisi

tamanmerah Apr 7th, 2019 122 Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
  1. Session 5 - Peristiwa dalam Puisi
  2. Oleh. Day Milovich,,
  3.  
  4. Gunakan Semua Indera
  5.  
  6. Saat menulis ataupun mengapresiasi puisi, gunakan semua inderamu. Citraan (image) dalam puisi, berawal dari bagaimana kamu menggunakan indera.
  7.  
  8. Ketika bertemu dengan "apa yang ingin saya tuliskan", bagaimana indera kamu bekerja?
  9.  
  10. Penglihatan, misalnya, lebih sering dominan. Para penulis puisi, kebanyakan memakai penalaran visual. Mungkin salah satu faktornya karena semangat zaman ini visual melulu. "What you see is what you get", kesan datang dari pandangan, fotografi media sosial, dst.
  11.  
  12. Coba pilih 10 puisi secara acak, atau mintalah pembaca puisi untuk mengapresiasi. Kebanyakan dari mereka, cenderung menganggap puisi sebagai "fotografi kata".
  13.  
  14. Bagaimana dengan indera penciuman, pendengaran, perabaan, gerak, dan lidah? Belum mencapai "rasa" kalau masih sebatasi penglihatan.
  15.  
  16. Ketika menggunakan "metafora" (mengatakan A dengan selain A), gunakan semua kemampuan indera. Hasilnya akan berbeda. Menjadi lebih kuat dan dalam.
  17.  
  18. Jangan biarkan puisi berhenti sebatas di pikiran. Menulis puisi, hanya sebatas pikiran, sering terjadi pada para penulis yang malas mengamati, malas melibatkan dirinya. Hasilnya: puisi yang ensiklopedis. Puisi yang menyampaikan pengetahuan umum.
  19.  
  20. Betapa sering kita menjumpai puisi #tentang pantai, tetapi tidak menghadirkan-kembali pantai yang berbeda.
  21. Pantai, dalam puisi yang kehilangan indera, dinyatakan dengan ungkapan-ungkapan umum, seperti: "semburat jingga", "temaram", "matahari tenggelam", "mengenangmu di pantai ini", dst. Pantai akhirnya menjadi "keterangan tempat" yang sama dengan 1000 pantai yang lain.
  22.  
  23. Tidak terjadi #peristiwa baru, tidak ada #pengalaman baru.
  24.  
  25. Apakah ruang dan waktu yang sedang kamu hadapi, telah kamu alami dengan segenap indera, ataukah sebatas kamu hubung-hubungkan dengan pernyataan umum? Apakah kamu bergantung pada referensi yang telah terjadi sebelum puisimu ini terlahir, ataukah kamu punya pijakan baru berdasarkan apa kata inderamu?
  26.  
  27. Ini contoh penggalan puisi Taufiq Ismail, berjudul "Beri Daku Sumba", untuk Umbu Landu Paranggi.
  28.  
  29. -------
  30. Beri Daku Sumba
  31.  
  32. Taufik Ismail
  33.  
  34. Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
  35. Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
  36.  
  37. Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
  38. Di mana matahari membusur api di atas sana
  39. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
  40. Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
  41.  
  42. Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
  43. Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
  44. Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
  45. Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
  46.  
  47. Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
  48. Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
  49. Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
  50. Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
  51.  
  52. Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
  53. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
  54. Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
  55. Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
  56.  
  57. Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
  58. Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
  59. Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
  60. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
  61. -------
  62. Apakah langsung terbayang, ada apa di Sumba dalam puisi ini?
  63.  
  64. Coba bandingkan dengan puisi Umbu Landu Paranggi, tentang Sumba berikut ini:
  65.  
  66. -------
  67. Ronggeng Sumba
  68.  
  69. Umbu Landu Paranggi
  70.  
  71. I
  72. Tambur tua, ditabuh dewa
  73. menujum sunyiku, di mulut kemarau
  74. sirih pinang tembakau, membaun angin cendana
  75. duh sarungkan pedangmu, dendam budak biru
  76. gulung rokok daun lontar, kumurkan mantra pengantar
  77. api pediangan menanti, siraman darah lelaki
  78.  
  79. II
  80. Gong gong purba, meningkah bertalu talu
  81. duh restu dewata, menjaring bulan buangan
  82. lima perawan saringan, menghambur dalam arena
  83. terjurai melindas baying, kain dan selendang pilihan
  84. tenunan datu, kayu dan batu
  85. anyaman pelangi, menyambar nyambar dukaku
  86.  
  87. III
  88. gemerincing giring-giring di kaki, mabuk berburu sorak sorai
  89. bulu ayam di kepala meronta, surai kuda di jari melambai
  90. melipat malam lupa berbusa, hai patah tambur buat rajamu
  91. (hingga lepas urat-urat tangan), gong-gong nyaring dan tajamkan
  92. (bahkan hingga putus napas tarian), mari…hanya kesepianku
  93. panggang di bara cemar, sampai subuh berlinangan
  94. embun, pijaran riap embun, yang meramu cintaku
  95.  
  96. IV
  97. rawa rawa, paya paya, duka cintaku mengibas telaga senja
  98. rawa rawa, paya paya, di punggung sunyi hariku busur cakrawala
  99. rawa rawa, paya paya, baris cemara meriap gerimis nyawaku
  100. rawa rawa, paya paya, pelaminan kemarau, nyanyi fana nyanyi baka
  101. -------
  102. Sumber: “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.
  103.  
  104. Umbu Landu Paranggi mengalami Sumba sebagai ruang batinnya. Ia kaya dalam menceritakan suara, angin, kemarau, dan ritual Sumba.
  105.  
  106. Pada puisi lain, mari kita rasakan "peristiwa" ritual yang dirasakan Umbu Landu Paranggi dalam puisi ini:
  107.  
  108. -------
  109. Dari Pura Tanah Lot
  110.  
  111. Umbu Landu Paranggi
  112.  
  113. inilah bunga angin dan tirta air kelapa muda
  114. para peladang yang membalik balik tanah dengan tugal
  115. agar bermuka muka langit tinggal serta dalamku
  116.  
  117. bercocok tanam mengidungkan musik dwitunggal
  118. dan seruling tidur ayam di dangau pinggir tegalan
  119. atau sepanjang pematang sampai ke batang air
  120. duduklah bersila di atas tumpukan
  121. batu batu karang ini lakon lakon
  122. rumput dan sayur laut mengirimkan gurau ombak
  123. seraya uap air memercik pedihku
  124.  
  125. beribu para aku sebrang sana datang
  126. mengabadikanmu pasang naik pasang surut
  127. dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru
  128. ke gunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk
  129. tak teduh mengairi kasihku
  130. -------
  131. (Sumber: Majalah "Kolong Budaya" No. 3 Th. I/1996)
  132.  
  133. Umbu Landu Paranggi, di Bali, menuliskan ritual, bukan sebagai pengamat dari kejauhan. Ia menceritakan "rasa"nya, #dengan ritual di Bali. Coba baca puisi di bawah ini:
  134.  
  135. Fragmen Upacara
  136. (buat Inna Rambunaijati Pajijiara Marambahi)
  137.  
  138. Tujuh lapis langit kutapis
  139. teratas:
  140.             sungsang lapar dahaga
  141. delapan peta bumi kukipas
  142. terbawah:
  143.             hening runtuhan sukma
  144. mencium celah retak tanah tanah
  145. serayaraya sawahladang terimakasihmu
  146. dan ringkik kuda putih putus tali
  147.                         ke negeri dewata terlupa
  148. (ke mata air matahari ribuan ternak)
  149. menggiring yang berumah di sajak sajak
  150.                         membasuh debu tungkai
  151.                         barisan anakanak sulungmu
  152.                         barisan anakanak bungsuku
  153.  
  154. (Denpasar 1984; versi 1)
  155. -------
  156. Sebagaimana ia menceritakan #sudutpandang dirinya, saat "mengalami" dan "masuk" ke dalam teks kuda merah, dalam puisi ini:
  157.  
  158. -------
  159. Kuda Merah
  160.  
  161. kuda merah musim buru,
  162.                 berapa kemarau panjang maumu
  163. jantung yang akan terbakar hangus,
  164.                 satu cambuk api lagi
  165. peluki padang anak angin
  166.                dan batu gunungku purba
  167. melulur bayang-bayang di pasir waktu :
  168.                                rahasia cinta
  169. -------
  170. Tanpa masuk dan menyelami teks, menulis puisi hanya menjadi pengamatan, yang menjauhkan pembaca dari "kuda merah".
  171.  
  172. Lalu, apakah "peristiwa" dalam puisi itu?
  173. Kejadian yang membangkitkan impresi (kesan) bagi penulisnya, lalu dituliskan dalam bentuk lain. Kesadaran atas ruang dan waktu, yang "melibatkan" dan mencapai "kedalaman". Peristiwa itu selalu hadir-kembali dan direproduksi oleh pembaca.
  174.  
  175. "Matahari tenggelam" baru menjadi peristiwa, jika ada "panggilan" dan "pembentukan pengalaman baru". Jika tidak, itu hanya wallpaper dan rutinitas alam.
  176. Begitu pula senyum orang lain, sebatang pohon, atau suara lengking kereta-api. Kekuatan ada di tangan penulis puisi.
  177. Peristiwa, bisa menjadi jalan untuk "menentukan sikap", menyampaikan "rasa" penulis puisi, dan "sudut pandang" yang tak dimiliki orang lain.
  178.  
  179. Tidak semua puisi Rendra itu bagus dalam mengungkapkan peristiwa. Saya terkesan dengan puisi Rendra yang ini:
  180.  
  181. -------
  182. Gerilya
  183.  
  184. WS. Rendra
  185.  
  186. Tubuh biru
  187. tatapan mata biru
  188. lelaki berguling di jalan
  189. Angin tergantung
  190. terkecap pahitnya tembakau
  191. bendungan keluh dan bencana
  192.  
  193. Tubuh biru
  194. tatapan mata biru
  195. lelaki berguling di jalan
  196. Dengan tujuh lubang pelor
  197. diketuk gerbang langit
  198. dan menyala mentari muda
  199. melepas kesumatnya
  200.  
  201. Gadis berjalan di subuh merah
  202. dengan sayur-mayur di punggung
  203. melihatnya pertama
  204. Ia beri jeritan manis
  205. dan duka daun wortel
  206.  
  207. Tubuh biru
  208. tatapan mata biru
  209. lelaki berguling di jalan
  210. Orang-orang kampung mengenalnya
  211. anak janda berambut ombak
  212. ditimba air bergantang-gantang
  213. disiram atas tubuhnya
  214.  
  215. Tubuh biru
  216. tatapan mata biru
  217. lelaki berguling di jalan
  218. Lewat gardu Belanda dengan berani
  219. berlindung warna malam
  220. sendiri masuk kota
  221. ingin ikut ngubur ibunya.
  222. -------
  223. (Puisi "Gerilya" karya WS. Rendra, dimuat di Majalah "Siasat", Th IX, No. 42, 1955.)
  224.  
  225. Kata-kunci yang bisa diingat dalam keterlibatan selama menulis itu apa?
  226.  
  227. Empati. Bukan Simpati.
  228.  
  229. Simpati milik pengamat, milik "pihak ketiga" yang nggak mau masuk. Simpati milik orang malas. Empat, tidaklah demikian.
  230.  
  231. Kamu bisa mengajarkan bahasa Inggris kepada anak seorang petani kalau kamu mengalami (setidaknya satu atau dua) peristiwa yang terjadi dalam diri anak petani itu. Kamu tidak bisa mendengarkan musik seperti anak-kecil jikalau kemampuan mendengarmu dengan penuh kepolosan sudah mati sejak lama.
  232.  
  233. Keluarlah dari zona nyaman. Salah satunya, dengan mengalami teks dengan seluruh inderamu.
  234. Empati dapat kamu tunjukkan, dalam puisi, dengan menceritakan peristiwa #untuk menggambarkan pengalamanmu.
  235.  
  236. Lagu Biasa
  237.  
  238. Chairil Anwar
  239.  
  240. Di teras rumah makan kami kini berhadapan
  241. Baru berkenalan. Cuma berpandangan
  242. Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
  243. Masih saja berpandangan
  244. Dalam lakon pertama
  245. Orkes meningkah dengan 'Carmen' pula
  246.  
  247. Ia mengerling. Ia ketawa
  248. Dan rumput kering terus menyala
  249. Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
  250. Darahku terhenti berlari
  251.  
  252. Ketika orkes memulai 'Ave Maria'
  253. Kuseret ia ke sana...
  254.  
  255. Maret 1943
  256. -------
  257. Chairil Anwar, dalam puisi "Lagu Biasa", memfungsikan "peristiwa" untuk menceritakan gairah muda, yang pelan-pelan terbakar, sambil mengalami pembicaraan dengan gadis idamannya.
  258.  
  259. "Ia mengerling. Ia ketawa dan rumput kering terus menyala"
  260.  
  261. Aku-lirik ("aku" dalam puisi) seperti sudah "terpapar" seperti sehalaman rumput (yang ia lihat) ketika melihat Si Gadis sedang mengerling dan tertawa.
  262. Ia menggunakan indera penglihatan ("Ia mengerling. Ia ketawa") dan penglihatan itu semakin luas sampai seolah terbakar, pelan-pelan ("Dan rumput kering terus menyala").
  263.  
  264. Puisi di atas, bisa menjadi contoh, bagaimana penulis puisi melakukan "show, don't tell" (tunjukkan, jangan katakan), seperti kata George Orwell.
  265.  
  266. Mari kita melihat bagaimana puisi Joko Pinurbo mengajak (tebak, ini "pengamatan" atau "mengalami"?) pembaca ke peristiwa Mei 1998 dalam puisi berikut ini.
  267. -------
  268. Mei
  269. :Jakarta, 1998
  270.  
  271. Tubuhmu yang cantik, Mei, telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api.
  272. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengecup tubuhmu sampai lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu
  273. sampai dilumatnya yang cuma warna, yang cuma kulit, yang cuma ilusi.
  274. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei, adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei.
  275. Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.
  276. (2000)
  277. -------
  278. Joko Pinurbo menuliskan puisi "Mei", tahun 2000. Secara eksplisit, ia menambahkan ":Jakarta, 1998" di bawah judul. Joko Pinurbo kuliah di Yogyakarta, kelahiran Sukabumi, menulis tentang Jakarta 1998. Mungkin ia berdemonstrasi di Jakarta, tidak menuliskan peristiwa 1998 di Sukabumi.
  279.  
  280. Saya sengaja menghilangkan penggalan baris dalam puisi Joko Pinurbo di atas. Masihkah terasa puisi jikalau saya memenggal puisinya, seenaknya? Masihkah Mei 1998 (di Jakarta? kwkwkw..) menjadi "peristiwa dengan sudut pandang baru" bagi para pembaca puisi Joko Pinurbo? Ataukah sekadar mendeskripsikan-ulang dan menyampaikan-kembali dengan bahasa yang dipuitis-puitiskan?
  281.  
  282. "Peristiwa" (bedakan dengan "kejadian"), sekali lagi, #selalu berlangsung jika penulis puisi berhasil menceritakan-ulang. Peristiwa yang menarik, mengundang pembacaan terus-menerus. Bukan sesuatu yang ditafsirkan dengan cara-baca yang sama.
  283.  
  284. Kalau peristiwa tidak menyajikan krisis, dilemma, dan ambigu, berarti itu kejadian faktual, selayaknya berita.
  285.  
  286. Tidak harus dengan diksi yang aneh dan teknis. Kedalaman, terjadi pada struktur dan melibatkan pengalaman (setidaknya: pengalaman inderawi).
  287.  
  288. Joko Pinurbo sering "mengalami kembali" kejadian-kejadian, lalu menjadikannya "peristiwa".
  289.  
  290. Coba baca puisi ini.
  291.  
  292. -------
  293. "Ia gemetar naik ke ranjang, sebab menginjak ranjang serasa menginjak rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang. Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit, serasa terdengar gemeretak tulang ibunya yang sedang terbaring sakit."
  294. -------
  295. (Joko Pinurbo, puisi "Ranjang Ibu", dari buku "Selamat Menunaikan Ibadah Puisi", 2004.)
  296.  
  297. Seperti apa, "rasa" yang terjadi ketika membaca puisi ini? Ataukah (bisa jadi) ketika puisi menjadi tidak berbaris-baris, puisi tersebut hanya menjadi semacam narasi dalam cerpen? : )
  298.  
  299. Juga pada puisi Joko Pinurbo yang berjudul "Misal" ini:
  300.  
  301. -------
  302. "Misalkan Aku datang ke rumahmu dan kau sedang khusyuk berdoa, akankah kau keluar dari doamu dan membukakan pintu untuk-Ku?"
  303. -------
  304. (Joko Pinurbo, puisi "Misal", 2016).
  305.  
  306. Joko Pinurbo terbuka menceritakan bagaimana puisi menjadi keterampilan "mengarang", seperti yang saya simpulkan, ketika membaca wawancaranya berikut ini:
  307. -------
  308. "Saya sempat mengirimkan naskah saya ke tiga penerbit dan tidak diterima. Karena terus ditolak sampai tiga kali, lalu saya mengevaluasi puisi-puisi saya dan saya menemukan ternyata karya-karya saya memang tidak menunjukkan sesuatu yang unik atau baru, hanya mengulang-ulang gaya penulisan yang sudah dilakukan oleh para penyair sebelumnya. Saya kemudian membuat semacam riset kecil-kecilan untuk memeriksa objek-objek atau tema-tema yang pernah ditulis oleh para penyair Indonesia sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, WS Rendra, dan masih banyak lagi. Dari riset tersebut, saya menemukan ada tema-tema atau objek-objek tertentu yang belum ditulis oleh mereka..
  309. Saya juga melakukan perubahan gaya, sebelumnya saya banyak menulis puisi-puisi yang bergaya lirik seperti kebanyakan para penyair lainnya. Lalu saya mulai mengembangkan gaya naratif yang ternyata lebih cocok dan membuat saya merasa lebih nyaman dengan gaya puisi yang bercerita."
  310.  
  311. (Wawancara White Board Journal dengan Joko Pinurbo, 2017) bit.ly/2MIQbXC
  312. -------
  313. Sebagai penutup, saya akan kutipkan puisi dengan kekuatan bercerita dan menggunakan kosakata di sekeliling, dari Gabriela Mistral.
  314.  
  315. -------
  316. Pohon Liana
  317.  
  318. Gabriela Mistral
  319.  
  320. Dalam kegaiban malam
  321. doaku memanjat bagai liana,
  322. meraba-raba bagai si buta
  323. lebih awas dari burung hantu.
  324.  
  325. Pada batang malam
  326. yang dulu kaucinta, yang kucintai kini,
  327. merambat doaku yang cabik-cabik,
  328. koyak dan ditambal, bimbang dan yakin.
  329.  
  330. Di sini rambatan mematahkannya,
  331. di sini angin semilir mengangkatnya,
  332. angin ribut melempar-lemparkannya,
  333. dan sesuatu yang tak kukenal
  334. mencampakkannya kembali ke bumi.
  335.  
  336. Kini ia merambat bagai liana,
  337. kini panas memancar ke atas, pada setiap denyut
  338. diterima dan dikembalikan.
  339.  
  340. Doaku ada, aku tiada.
  341. Ia tumbuh, dan aku lenyap.
  342. Hanya kumiliki nafasku sesak,
  343. akalku dan gilaku.
  344. Kupegang erat-erat rambatan doaku.
  345. Kurawat ia di akar
  346. batang malam.
  347.  
  348. Senantiasa kejayaan hidup
  349. yang itu juga, ajal yang itu juga,
  350. kau yang mendengarku dan aku yang melihatmu.
  351. Pohon rambat itu menegang, putus, berkerut,
  352. mengoyak dagingku.
  353.  
  354. Rabalah ujungnya yang melemah
  355. kalau doaku mencapaimu
  356. sehingga kutahu kau telah menerimanya,
  357. menahannya di malam panjang.
  358.  
  359. Sesaat malam mengeras,
  360. keras bagai eucalyptus,
  361. menjelma jalur jalan yang hitam
  362. dan sunyi sungai yang beku.
  363. Liana-ku memanjat dan memanjat
  364. hingga sulurnya menyentuh sisimu.
  365.  
  366. Waktu batangnya patah, kau mengangkatnya,
  367. dan karena sentuhnya aku mengenalmu.
  368. Kemudian nafasku menderu,
  369. hasratku menyala, pesanku berkobar seru.
  370.  
  371. Aku jadi hening. Kusebut namamu. Satu demi satu
  372. kusebutkan semua namamu.
  373. Liana membelai batang lehermu,
  374. mengikatmu, melilitmu, dan akhirnya tenang syahdu.
  375.  
  376. Nafasku malang terengah
  377. kata-kata menjelma air bah.
  378. Doaku, sudah tertambat,
  379. akhirnya tenang, dan akhirnya diam.
  380. Kemudian kutahu: batang malam
  381. darahku telah berlabuh,
  382. gelendong patah tubuhku
  383. terurai dalam doa;
  384. dan kutahu: jerit tawakal,
  385. memanjat lagi ke atas dan dalam memanjat
  386. semakin sengsara, semakin tinggi panjatnya.
  387.  
  388. Pungut kumpulkan doaku malam ini.
  389. Raih dan peganglah ia.
  390. Tidur, sayangku, biarkan tidurku
  391. datang padaku dalam doa,
  392. dan kalau kita dulu di bumi,
  393. kini kita pun tetap di sini.
  394. -------
  395. (Penerjemah: Sapardi Djoko Damono)
  396.  
  397. Catatan:
  398. Liana, nama sejenis pohon merambat.
  399. Eucalyptus, nama pohon yang batangnya keras.
  400.  
  401. Ringkasan
  402. + Gunakan semua indera selama menulis dan membaca puisi.
  403. + Coba berempati dan masuki sekitarnu, agar kejadian berubah menjadi peristiwa.
  404. + Peristiwa memiliki banyak fungsi, terutama untuk mengerjakan metafora, serta mereprodukai imajinasi pembaca, agar lebih berkesan dan mendalam.
  405.  
  406. Teruslah menulis dan membaca puisi. *[dm]*
  407.  
  408. -------
  409. Day Milovich,,
  410. Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang.
RAW Paste Data
We use cookies for various purposes including analytics. By continuing to use Pastebin, you agree to our use of cookies as described in the Cookies Policy. OK, I Understand
Top