SHARE
TWEET

[workshop] 6. tentang -Apa- dan -Bagaimana-

tamanmerah Apr 7th, 2019 125 Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
  1. Session 6 - tentang "Apa" dan "Bagaimana"
  2.  
  3. Orang dewasa bertanya, "Apa ini?", tetapi anak kecil bisa lebih cerdas, dengan bertanya, "Ini bisa saya apakan?".
  4.  
  5. Dunia orang dewasa sudah terlalu banyak konvensi, ketetapan, dan kehilangan permainan, kurang berimajinasi.
  6. Kalau kita bertanya, "Apakah pantai itu?", kebanyakan orang berbicara tentang bentuk, suasana, kesan, yang itu-itu juga.
  7.  
  8. Menulis fiksi dan puisi, meminta keberanian penulis untuk membuka-diri, agar "apa" bisa menampilkan-diri apa adanya.
  9.  
  10. Kita bisa melatih dengan cara memberikan pengertian-pengertian baru atas "apa" yang ada di sekitar.
  11.  
  12. Apakah pantai itu?
  13.  
  14. Seratus kali ke pantai, apakah kesan pantai selalu sama dan memberimu pengertian sama? Semakin mengamati dan mengalami, pantai bisa menyajikan banyak pengertian.
  15.  
  16. Lupakan "definisi" (batasan) yang diberikan kamus dan leksikon. Yang di sana, terlalu umum, dan tak-berkembang.
  17.  
  18. Pengertian bisa selalu berubah, bergantung pada bagaimana "saya" mengalami _sesuatu_ ini, bagaimana "sekarang", dan sedang terhubung dengan apa. Pantai bisa berubah-ubah.
  19.  
  20. Setiap mendatangi pantai, saya menuliskan sebaris kalimat. Yang hasilnya berbeda-beda. Apa kata kamera saya, apa kata perasaan dan pengalaman saya "sekarang", bisa menghasilkan pengertian berbeda-beda.
  21.  
  22. "Pantai itu terapi. Tempat belajar kesabaran ombak yang tak pernah lelah mencapai pantai. Tempat langit bersih dan matahari begitu rendah di saat senja. Langit pantai adalah kanvas bagi angin, bertinta mega, tempat burung-burung pulang dari petualangan. Di balik cakrawala, ada tanah seberang melambai. Pantai bisa membunuh bahasa lidah, pembuka pikiran beku, yang mengatupkan bibir kita dengan ciuman angin yang tak-terkatakan."
  23.  
  24. Bertanya tentang "apa", selalu menjadi cara-kerja kepenulisan ketika seorang penulis melihat sesuatu.
  25.  
  26. Afrizal Malna, dalam novel "Lubang dari Separuh Langit", misalnya, menceritakan Neneng, sosok penghibur yang bekerja di salon kecantikan.
  27.  
  28. "Penghibur adalah milik publik, tambur jalanan, seruling yang membuka gembok-gembok penjara, tongkat yang menyodok semua lubang yang mampet."
  29.  
  30. Nukila Amal dalam novel "Cala Ibi", menuliskan siapa "aku-lirik" (tokoh "aku" dalam novel, karena novel belum tentu biografi penulisnya) dengan paragraf pembuka begini:
  31.  
  32. "Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan."
  33.  
  34. Aku-lirik di pembuka novel itu, sedang menceritakan siapa dirinya dan bagaimana sejarah tempat kelahirannya.
  35.  
  36. Setiap menyatakan "apa", kita bisa menggunakan "metafora" ataupun "simile". Metafora berlangsung kalau kamu memakai "adalah". "Simile" terjadi kalau kamu memakai "serupa".
  37.  
  38. "Di kamar ini, aku adalah kupu-kupu yang hinggap di tempat-tempat harum. Kamar ini tak pernah menyerahkan dirinya kepada dunia di jendela. Aku telah menata bunga-bunga dan mengawinkan mereka di sini. Baju harum yang kebanyakan berwarna kembang-kembang di dalam lemari. Sprei dan selimut yang meninggalkan harum tubuhmu. Ruangan yang membuatku tak mau pergi."
  39.    
  40. Butuh waktu lama untuk "menyederhanakan" apa yang kamu lihat dan alami. Menyederhanakan (versi "saya", alias versi penulis), justru untuk memberikan "jembatan" bagi pembaca, membuka ruang, agar menampilkan apa yang sedang kamu tuliskan.
  41.  
  42. Picasso berkata, "Aku tidak melukis apa yang aku lihat. Aku melukis apa yang aku pikirkan.". Sebuah fotografi, kadang hanya menampilkan mata seseorang, kilasan warna, hitam-putih (B/W), safe-color, yang berbeda dari obyek yang di-capture. Justru dari sana, ada percakapan: mengapa mata ini yang kamu bidik? Ke mana perginya warna lain? Cahaya apa yang kamu pakai? Menulis, berarti memberikan identitas baru.
  43.  
  44. "Apa" bisa didekati dengan memberikan identitas. Apa fungsinya? Untuk siapa ini? Rumah bisa dijelaskan dengan banyak cara, namun, mana yang kamu pilih?
  45.  
  46. Penulis (puisi dan fiksi) yang tidak pernah "mengalami", tidak bisa ber-empati; yang tidak terbiasa melakukan perjalanan, akan membuat rute singkat dan mengabaikan petualangan. Tidak membuka mata dan telinga orang lain, ke tempat-tempat menarik dalam "pengalaman" dan "perjalanan" hidup. Penulis yang terlalu mencintai gagasannya, tidak bisa merancang jembatan-pengalaman. Ia hanya sibuk mengekspresikan pikirannya, jarang meragukan pikirannya sendiri [sebelum dan] selama menulis.
  47.  
  48. Mulailah mengenal-kembali kata yang sudah kamu kenal.
  49.  
  50. Dan warna, dan gerakan, dan lain-lain. Tindakan ini sangat penting. Mendayakan indera, bukan hanya penglihatan, tetapi juga kinestetik, pengecapan, semuanya. Tidak untuk menyatakan secara lengkap, tetapi, menyatakan secara tepat. Dan kamu tahu apa yang kamu tuliskan.
  51.  
  52. Saya sering terlibat pembicaraan lama, ketika memasuki pengertian suatu "kata". Saya pernah terlibat konflik dengan seseorang, hanya karena kami mendiskusikan "pink". Ada bermilyar-milyar warna, ada sistem warna, ada sejarah warna.
  53.  
  54. Dalam buku "History of Color" diceritakan (secara ilmiah) bagaimana manusia mengenal warna dan bagaimana warna memasuki kehidupan manusia di psikologi, sistem kepercayaan, dan industri. Selama mendesain, wajib mengenal sistem warna. Masalahnya, dalam kasus yang saya alami, kawan saya menyebutkan "pink" yang berbeda dari sistem warna. Dalam sistem warna, itu bukan pink. Akhirnya, saya mengambil jalan tengah, "Baiklah. Mulai sekarang, kalau kamu menyebutkan pink itu berarti magenta menurutku."
  55.  
  56. Kata juga demikian. Banyak orang berdebat tentang karakter "introvert" dan "ekstrovert", tetapi tidak tahu apa itu ambivert. Bahkan tidak mengerti apakah kawan-dekat di sampingnya ini ambivert atau bukan. Banyak orang takut pada "split personality" karena mendapatkan informasi dari novel dan film tentang karakter fiktif yang mengidap "split personality".
  57.  
  58. The point is..
  59.  
  60. Untuk membuat "jembatan" ataupun "citraan" bagi pembaca, berhentilah menjadi sebatas pengamat. Lepaskan kaca mata, gunakan mata, raba dengan tangan, dan bertanyalah seperti anak kecil, "Ini bisa saya apakan?".
  61.  
  62. Sekali waktu, peganglah "gelas", namun lupakan #pengertian "gelas" yang konvensional. Kalau sejak awal harus ditanamkan "kamu harus percaya, ini adalah gelas", untuk apa melakukan pengamatan? Sama halnya diajak "out of box", kalaupun bisa "out" berarti karena memakai ukuran ada-tidaknya "box". Akhirnya, lupa menghancurkan "box"nya. Untuk apa "box" dianggap ada, kalau membebani langkah ke depan? Untuk apa definisi itu ada kalau tidak membuat orang punya definisi sendiri?
  63.  
  64. Jadi, kita boleh dan bisa punya pengertian sendiri tentang apa saja.
  65.  
  66. Everything is metaphor.
  67.  
  68. Misalnya, ada seseorang bertanya, "Mengapa kamu suka merah?". Dalam prosa, ini bisa menjadi perbincangan menarik.
  69.  
  70. "Merah adalah warna yang pertama kukenal. Merah adalah darah. Darah adalah hidup, peperangan, dan kematian. Kematian adalah tidur panjang di mana semua kelelahan dilepaskan. Aku suka merah."
  71.  
  72. Misalnya lagi, kamu ingin menceritakan keadaan rumah, dalam prosa.
  73.  
  74. Bikin pertanyaan. Apa fungsi rumah ini? Sekadar "tempat" ataukah "masalah" dalam cerita ini? Kemudian, setelah menentukan itu, carilah suasana apa yang ada di rumah ini. Apakah kedamaian, rasa-penat, atau sekadar tempat untuk tidur? Barulah setelah bertemu, deskripsikan seperti apa rumahnya.
  75.  
  76. Seorang penulis, tidak ingin rute pendek, sebab rute pendek berarti hilangnya detail dan petualangan. Rute pendek hanya menghubungkan 2 titik terdekat. Kemalasan. Tanpa ajakan. Tidak memberikan imajinasi.
  77.  
  78. Kebanyakan penulis pemula, melompat langsung ke usaha mendeskripsikan rumah. Tidak. Tentukan status rumah dalam cerita ini, seperti apa suasana yang mau diangkat, barulah deskripsikan "peristiwa" di dalamnya.
  79.  
  80. Apa fungsi rumah ini? Tempat tokoh dalam cerita ini hidup.  
  81.  
  82. Seperti apa suasana yang mau diangkat? Damai, menyenangkan. Ini kata sifat dan kata keterangan yang harus dihancurkan menjadi deskripsi.
  83.  
  84. Barulah kemudian: buat deskripsi rumah ini.
  85.  
  86. "Nia tinggal di rumah ini, bersama anaknya. Tidak pernah terdengar suara pintu dihempaskan sejak mereka menempati, 3 tahun yang lalu. Suara tawa anaknya saat menonton streaming, selalu lebih keras daripada seruan Nia agar bocah berumur 2 tahun itu segera tidur. Hembus angin dari teras adalah tamu mereka 24 jam. Namun malam itu, terdengar suara pintu digedor. Keras sekali."
  87.  
  88. Sama halnya, deskripsi awal tentang adegan perburuan di puisi "Balada Terbunuhnya Atmo Karpo" karya WS. Rendra.
  89.  
  90. "Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi. Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para. Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu. Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang."
  91.  
  92. Adegan itu menampilkan, suasana orang berkuda. Bulan terlihat di pucuk-pucuk para, membuat pengejaran menguntungkan para pengejar. Rambut kuda (surai), di tengah hutan, saking lelahnya sampai tercium bau keringatnya. Dan pedang (jenawi) laras panjang yang biasa dipegang dengan dua tangan, dalam kondisi siap-tempur.
  93.  
  94. Untuk membaca (dan menuliskan) suasana dalam fiksi, kita bisa mengawalinya dengan mencoret-coret kata yang dipakai di sana. Kata-benda, kata-kerja, lingkari dan tandai, sehingga akan tergambar "peristiwa" dalam fiksi tersebut.
  95.  
  96. Buat hubungan dari titik-titik itu.
  97.  
  98. Mulailah berlatih mendeskripsikan apa yang ada di sekitar, dengan cara kamu sendiri. Berkali-kali, dalam kesempatan berbeda, untuk memastikan kamu sudah mengalami sekitarmu dengan cara yang berbeda-beda.
  99.  
  100. Menulis bukanlah mengamati dan menilai dengan apa yang sudah mapan. Menulis berarti menggunakan suaramu sendiri. *[dm]*
  101.  
  102. -------
  103. Day Milovich,,
  104. Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang.
RAW Paste Data
We use cookies for various purposes including analytics. By continuing to use Pastebin, you agree to our use of cookies as described in the Cookies Policy. OK, I Understand
Top