SHARE
TWEET

tentang Strategi Berpikir (Part 2/3)

tamanmerah Apr 5th, 2019 (edited) 103 Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
  1. tentang Strategi Berpikir (Part 2/3)
  2. Oleh. Day Milovich,,
  3.  
  4. *Tujuan berpikir* agar tidak-perlu selalu berpikir sebelum bertindak.
  5.  
  6. *Sifat pikiran* mengatasi keraguan dan ketidak pastian, lalu mencari pola untuk diikuti.
  7.  
  8. Contoh: Belajar naik sepeda motor, tadinya "sadar", menjadi "otomatis".
  9.  
  10. *Persepsi* adalah cara "saya" memandang sesuatu, menurut saya sendiri. Hampir mirip opini, sudut-pandang "saya".
  11.  
  12. Persepsi kurang berlaku pada matematika, karena ada rumusnya (termasuk rumus-praktis). Akhirnya, orang memilih belajar menerapkan rumus.
  13. Juga pada pemakaian aplikasi Android: orang melihat #fungsi dan #hasil, bukan pada proses.
  14.  
  15. -------
  16.  
  17. Kecerdasan seseorang tidak diukur dari penyelesaian trivia (pertanyaan yang hanya menyajikan 1 jawaban-benar. Kecerdasan seseorang diukur dari caranya mengidentifikasi masalah, menguraikan "skema besar", dan memilih alternatif terbaik dari sekian banyak kemungkinan. Ini bisa dilatih.
  18.  
  19. Tes IQ dan wawancara mental selalu ada bagian mengenai "perspektif" dan "APC". Perspektif itu cara-memandang, kamu memilih berdiri di mana dan pakai lensa macam apa. APC, seperti kita tahu, persoalan menguji-ulang permasalahan dan menyelidiki kemungkinan.
  20.  
  21. Motivator bukan orang kreatif. Ia hanya nyaman pada satu pola, dan memandang dunia dengan cara itu-itu saja. Anak kecil yang menonton YouTube lalu menirukan eksperimen di dalamnya, bukanlah kreatif. Pemakai aplikasi atau script untuk hacking bukanlah kreatif. Orang yang dianggap kreatif, belum tentu berpikir lateral. Ukuran kreatif itu kalau bisa menciptakan sesuatu yang baru: masalah baru, cara-baru, sudut-pandang baru.
  22.  
  23. Meskipun demikian, trivia bermasalah jika kita menggunakan sistem-uji yang ketat.
  24. Apa nama gunung tertinggi di dunia?
  25.  
  26. Ada 9 kotak, hanya boleh mengisikan angka antara 1-9, tidak boleh ada angka urut di posisi horisontal, vertikal, dan diagonal.
  27.  
  28. Pertanyaan:
  29. Bisa kamu kerjakan dalam berapa cara?
  30.  
  31.    !   ! 1
  32. -----------
  33.  3 !   !
  34. -----------
  35.    ! 2 !
  36.  
  37. Setelah berhasil, bisakah kamu menjelaskan bagaimana caramu menyelesaikan?
  38.  
  39. Atau pertanyaan ini:
  40. Buatlah daftar kata, berisi sebanyak-banyaknya kata, yang bisa kamu buat dari huruf-huruf yang ada pada "THE PLANETS".
  41.  
  42. Ada berapa kata yang bisa kamu buat?
  43.  
  44. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak alternatif, kemungkinan, dan pilihan. Jika membuka pikiran, selama ini, kebanyakan orang lebih suka memilih "cara lama yang dianggap berhasil" atau "yang pernah berhasil pada orang lain", namun memblokir kreativitas.
  45.  
  46. Contohnya:
  47. + Terbukti: Kerja di Rumah dengan Gaji 5 Juta per Bulan
  48. + Begini Cara Berpikir Secerdas Enstein
  49.  
  50. Tidak jarang, artikel seperti itu terjebak masuk ke dalam kebenaran-tunggal.
  51. Yang menakutkan bukanlah kebenaran-tunggal yang kita pilih, tetapi cara kita memilihnya.
  52.  
  53. Recognition: Begitu terjadi pengenalan pada pola, pikiran memilih pola itu. Ini terjadi pada hoax dan fake news. Ketika yang tak-masuk akal dan palsu mulai membanjir, orang menganggapnya sebagai pola dan akhirnya dipercaya sebagai fakta atau kebenaran.
  54.  
  55. Abstraksi: pemisahan, dari realitas menjadi cara-pandang. Realitas diuraikan menjadi keyword.
  56.  
  57. Contoh yang sangat sering dipakai dalam tes IQ.
  58. + Manakah di antara kata ini yang paling berbeda?
  59. + Apa kesamaan dari daftar-kata ini?
  60. + Bisakah kamu menyusun kata-kata dari 7 huruf ini?
  61.  
  62. Pertanyaan dalam melihat pola:
  63. + Apakah memang polanya seperti ini, ataukah cara kita melihatnya yang selalu dengan pola sama?
  64.  
  65. Grouping: pengelompokan, kategorisasi, klasifikasi.
  66.  
  67. Analisis terjadi ketika orang berhadapan dengan situasi rumit, menuju pola yang dikenal; dan untuk menjelaskan masalah (seperti abstraksi).
  68.  
  69. Mengapa orang percaya kepada Tuhan jika ternyata "Tuhan" yang mereka maksudkan ternyata berbeda? Bagaimana proses terbentuknya bahasa manusia?
  70. Apa arti "agama" menurut orang Yahudi, Islam, Hindu, dan Kristen?
  71. Geografi seperti apa yang membuat seorang anak lebih berpeluang menjadi jenius?
  72.  
  73. Pikiran selalu mengarah kepada pola (pattern). Melakukan asosiasi. Apa yang dikatakan orang ketika "Saya sejalan denganmu..", "Saya cocok dengan pemikiran ini..", "Saya juga menerima informasi yang sama, seperti ini.." sebenarnya adalah pemetaan dari domain dan target yang menjalin kecocokan pola. Ketika orang melihat lukisan abstract, banyak orang agak kesulitan berkomentar, karena belum ada pola yang tertanam di dalam pikiran. Matematika, bagi orang yang tidak suka matematika, juga demikian.
  74.  
  75. "Black campaign" memakai strategi ini.Berikan pola, terus menerus, lakukan dari banyak sumber, nge-flood, viralkan, dan penuhi pikiran orang sampai tidak perlu lagi mengidentifikasi, kesulitan membedakan mana yang palsu mana yang faktual. Pendidikan juga menerapkan pola, menanamkan pola.
  76.  
  77. Saya sering mendapatkan pertanyaan dari kawan-kawan, tentang bagaimana memotret yang baik. Mereka sudah 5-8 tahun di media, tetapi belum punya "pola" untuk fotografi yang bagus. Tanpa peduli ini ujian atau tidak, saya menjelaskan tentang prinsip komposisi, manual focus, color, dll. Setelah itu, caranya melihat foto menjadi berbeda.
  78. Mengubah cara berpikir itu menyakitkan. Harus melihat diri-sendiri di masa lampau yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan berdasarkan fakta yang tidak mencukupi, kesalahan-berlogika, dll.
  79.  
  80. Ketika berpikir, orang berhadapan dengan perasaan "awas dan sadar" (awareness). Ini adalah jenis kesadaran atas sistem informasi yang mengorganisir diri. Orang yang sadar ketika berpikir, tidak mau bilang, "Saya sudah pernah memikirkan ini..". Ia selalu terbuka kepada kemungkinan baru.
  81.  
  82. Cerita superhero DC dan Marvel, banyak yang menceritakan terjadinya "perubahan pola" dalam sains: observasi, kecelakaan, dan kesalahan. Hulk, Spiderman, seperti itu. Berada pada pola yang "sekarang" tidak akan membawamu kepada pola baru. Itu harus dilatih, harus mau berpindah, dan melawan diri "saya" versi sebelumnya.  
  83. Yang tidak disebut berpikir itu kalau hanya menetapkan pilihan, memakai produk-berpikir dari orang lain, dan berada di zona-nyaman "kebenaran tunggal".
  84.  
  85.  
  86. Bentuk peralihan pola yang lain adalah humor. Kalau sudah ketemu polanya, humor menjadi nggak lucu. Humor yang hanya merupakan imitasi dari realitas, dalam bentuk parodi, lucunya hanya sekali dua kali, setelah itu orang bisa menirunya dengan mudah.  
  87. Humor untuk melakukan pembelokan ketika terjadi keterbatasan berpikir.
  88. Dari humor kita bisa "membaca" banyak hal.
  89.  
  90. Ada sebuah anekdot Yahudi, ceritanya begini:
  91.  
  92. -------
  93.  
  94. Ada seorang anak muda, bertanya kepada Rabbi Yahudi, "Apa rahasia kecerdasan orang Yahudi?".
  95.  
  96. Rabbi ini tidak mau menjawab.
  97.  
  98. Pemuda ini terus memaksa, akhirnya Rabbi ini menjawab, "Kami punya Kitab Tsalmud. Jika kamu tahu salah satu rahasia kandungannya, kamu bisa menjadi secerdas orang Yahudi."
  99.  
  100. Pemuda ini semakin memaksa, "Uraikan 1 saja kandungan di dalam Kitab Tsalmud."
  101.  
  102. Lagi-lagi, Rabbi tidak mau, "Tidak mungkin. Hanya orang Yahudi yang bisa mengerti."
  103.  
  104. Pemuda ini terus memaksa.
  105.  
  106. Setelah menghela nafas, Rabbi ini berkata, "Baiklah. Kamu akan saya berikan 3 kali kesempatan menjawab pertanyaanku. Jika 1 saja kamu jawab benar, kamu bisa menyelami kandungan Kitab Tsalmud. Jika tidak bisa menjawab sama sekali, kamu tidak bisa menyelami kandungan Kitab Tsalmud. Bagaimana?".
  107.  
  108. Pemuda ini mengangguk.
  109.  
  110. Rabbi ini mulai memberikan pertanyaan,
  111. "Pertanyaan pertama. Ada 2 orang, yang 1 bodoh, yang 1 pintar. Keduanya keluar dari cerobong asap. Si Bodoh tubuhnya bersih, sedangkan Si Pintar tubuhnya kotor terkena asap. Siapa yang membersihkan-diri lebih dulu: Si Bodoh atau Si Pintar?".
  112.  
  113. Setelah lama berpikir dengan keras, Pemuda ini menjawab, "Si Bodoh membersihkan tubuhnya lebih dulu karena melihat orang di depannya bertubuh kotor."
  114.  
  115. Rabbi ini menggeleng, "Salah. Sekarang, pertanyaan kedua. Ada 2 orang, yang 1 bodoh, yang 1 pintar. Keduanya keluar dari cerobong asap. Si Bodoh tubuhnya bersih, sedangkan Si Pintar tubuhnya kotor terkena asap. Siapa yang membersihkan-diri lebih dulu: Si Bodoh atau Si Pintar?"
  116.  
  117. Menghadapi pertanyaan sama, Pemuda ini berpikir lebih keras. Setelah lama, ia menjawab, "Si Pintar membersihkan tubuhnya lebih dulu, karena ia tidak terpengaruh melihat Si Bodoh bertubuh bersih."
  118.  
  119. Rabbi ini kembali menggeleng, "Salah lagi. Si bodoh yang membersihkan tubuhnya lebih dulu, karena ia melihat tubuh Si Pintar kotor."
  120.  
  121. Mau protes bagaimana, akhirnya ia tetap dianggap salah, walaupun jawaban itu pernah ia pakai pada kesempatan sebelumnya.
  122.  
  123. Masih ada 1 kesempatan.
  124.  
  125. Rabbi tadi bertanya. Isi pertanyaan, masih sama persis. Pemuda ini benar-benar bingung. Kedua jawaban pernah ia gunakan dan keduanya dianggap salah. Jadi, apa jawabannya?
  126.  
  127. Pemuda ini menyerah, "Semua jawaban sudah saya gunakan namun kamu anggap salah. Jadi, apa jawabannya?"
  128.  
  129. Rabbi ini menjawab, "Ada jawaban ketiga. Mana mungkin 2 orang yang keluar dari cerobong asap yang sama, yang 1 kotor dan yang 1 bersih? Itu tidak mungkin. Nah, sekarang, kamu sudah mengerti salah satu kandungan di balik Kitab Tsalmud yang menjadi rahasia kecerdasan orang Yahudi."
  130.  
  131. : ) )
  132.  
  133. Setiap membaca teks, cobalah meng-generate apa yang bisa kamu dapatkan: pertanyaan, pelajaran, pola, dll.
  134.  
  135. Mari mencoba meng-generate (memproses) catatan di balik anekdot di atas.
  136.  
  137. Apa yang kamu dapatkan setelah membaca anekdot di atas?
  138.  
  139. + Jangan hanya "binary" (positif-negatif, pro-kontra). Cari aspek "interesting", sesuatu yang melampaui keduanya. Ini sama seperti metode PMI (plus, minus, interest).
  140. + Ada banyak alternatif, kemungkinan, dan pilihan. Pada saat memecahkan semua masalah, pertimbangkan semua, sebelum menggunakan satu atau beberapa. Ini sama seperti metode PMI.
  141. + Masalah yang teridentifikasi dengan benar, sudah mengandung jawaban di dalamnya. Seperti kata Derrida, "Di balik pertanyaan tersimpan jawaban, di balik permasalahan terkandung pemecahan." Jadi, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
  142. + Setiap jawaban terbatas oleh ruang dan waktu. Jawaban benar kemarin, belum tentu benar untuk waktu berikutnya. Memisahkan waktu dari proses penarikan kesimpulan, sangat berbahaya.
  143.  
  144. Bersambung ke Part 3
  145. -------
RAW Paste Data
We use cookies for various purposes including analytics. By continuing to use Pastebin, you agree to our use of cookies as described in the Cookies Policy. OK, I Understand
Top