SHARE
TWEET

tentang Strategi Berpikir (Part 3/3)

tamanmerah Apr 5th, 2019 248 Never
Not a member of Pastebin yet? Sign Up, it unlocks many cool features!
  1. tentang Strategi Berpikir (Part 3)
  2. Oleh. Day Milovich,,
  3.  
  4. Induksi atau Deduksi
  5. Induksi berasal dari pengalaman dengan pola yang jelas, dianggap benar, bisa dihubungkan dengan induksi lain. Rahasia pengetahuan Barat, berasal dari sistematisasi induksi. Induksi apel jatuh, menjadi temuan teori gravitasi. Berbeda dengan Yunani Kuno yang lebih mengandalkan deduksi. Segala sesuatu berasal dari air. Alam ide. Machiavelli menuliskan the Prince, itu pembacaan atas masa lalu, yang kelak menjadi dasar "black campaign" dan politik kekuasaan. Itu juga pembacaan atas pengalaman.
  6.  
  7. Apakah kita "mengalami" ataukah "memikirkan"?
  8. Bagaimana kita "mengada" dan "menjadi"?
  9. Ini pertanyaan dengan jawaban panjang. Nietzsche membaca-ulang Dynossian dan Appolonian dengan perspektif baru. Sama seperti ketika Foucault menggagas "sex" sebagai "seksualitas" (atau nalar seks) untuk melihat beroperasinya kekuasaan.
  10. Mengapa mereka bisa melampaui segitiga triadik Hegelian? Hegel berpendapat, Ruh Absolut itu berwukud negara, tempat konflik dialektis selamanya terjadi. Mereka bisa melompat karena mempertanyakan premis-premis sebelumnya.
  11. + Bagaimana melampaui category yang sudah ada?
  12. + Apakah premis ini bermasalah?
  13. + Bagaimana realitas yang terpinggirkan yang tidak masuk ke dalam narasi besar ini kita bicarakan?
  14. Pertanyaan yang sama, membuat Heidegger menggulirkan fenomenology, yang "menunda kesimpulan" dan membiarkan obyek menyatakan dirinya sendiri. Obyek harus terbebaskan dari penilaian sebelumnya, harus dinilai sebagaimana adanya.
  15. Imam al-Ghazali, Jalaluddin Suyuthi, Ibn al-`Arabi, Ibn Sina, Ibn al-Khaldun adalah orang-orang yang menjadi bukti bahwa menantang asumsi dari masa lalu adalah jalan untuk membuka pengetahuan. Mereka berbeda dari para pemikir sebelumnya.
  16.  
  17. Seni memiliki peluang terbaik untuk berpikir dengan pendalaman pola "tanpa-pengalaman" dan mempelajarinya dengan proses induksi lamban.
  18. Seni menemukan hal baru dari pengalaman-biasa (sesuatu yang jelas polanya).
  19.  
  20. Jalan seni bernama: krisis, ambiguitas, dan dilemma.
  21.  
  22. Kalau suatu karya seni bisa direduksi menjadi satu macam pembacaan, tanpa kedalaman, itu berarti bukan seni yang mengajak orang berpikir. Itu berarti induksi yang terlalu cepat dan hanya memakai pengalaman umum.
  23.  
  24. Berpikir membutuhkan latihan (exercise) untuk melatih mengenal pola. Mari membaca kumpulan artikel agar tahu seperti apa polanya; dalam hal ini struktur artikel dan bentuknya.
  25.  
  26. Iklan, hubungan industri, koran, liburan, membeli rumah, memakai baju, semuanya mengenal pola. Bisa dipelajari, dengan terus-menerus melakukan latihan (exercise)..
  27.  
  28. *Judgement dan Provokasi*
  29. Cobalah menguji judgement (penilaian) dan provokasi dengan mengomentari lukisan atau gambar abstrak. Atau coba lihat status di Facebook untuk melihat judgement dan provokasi yang terjadi di sana.
  30.  
  31. Orang memakai judgement untuk pengenalan dan identifikasi.
  32. Sistem pola, tidak bisa terjadi tanpa judgement.
  33.  
  34. Coba jawab pertanyaan berikut, kemudian lakukan pengujian "judgement dan provokasi" yang terjadi.
  35.  
  36. Apa yang terjadi jika kita punya 2 jenis mata-uang di negara ini?
  37. Bagaimana jika Indonesia tidak mengguakan sistem parlementer?
  38.  
  39. *Stimulus Acak*
  40.  
  41. Rangsangan acak sering saya pakai untuk "membaca" bagaimana suatu cerita dibuat.
  42. Kamu bisa pakai cara ini dalam proses kreatif. Perbanyak latihan.
  43.  
  44. Ide dasarnya: bisakah kamu hubungkan 2 hal acak ini, menjadi sebuah cerita?
  45.  
  46. Coba hubungkan 2-3 kata yang kurang-berhubungan dan gunakan dalam suatu kasus.
  47.  
  48. Misalnya:
  49. Menggunakan "Sabun" untuk Mengatasi "Kemacetan Lalu Lintas"
  50.  
  51. *Informasi dan Berpikir*
  52.  
  53. Informasi lengkap, tidak bisa terjadi untuk memprediksi "masa depan".
  54.  
  55. Pendidikan hanya bicara tentang "masa lalu": sortir, review, mendeskripsikan, dan menyerap pengetahuan yang ada.
  56.  
  57. Menggunakan informasi terbaik tidak lantas membuatmu pintar jika kamu tidak berpikir.
  58.  
  59. *Scanning Pengalaman*
  60.  
  61. Pengalaman sangat rentan terhadap pemikiran yang ego-sentris dan jangka-pendek (short-term)
  62.  
  63. Bagaimana melawan gagasan yang ego-sentris dan jangka-pendek?
  64.  
  65. Gunakan CAF (Consider All Factors) dan CS (Consequence and Sequel)
  66.  
  67. Kamu menyingkap (to cover) ataukah menyusun (to construct)?
  68.  
  69. Dalam disiplin verifikasi, pertimbangkan semua faktor dan pikirkan kelanjutan gagasan ini.
  70.  
  71. Ada seorang anak kecil yang menggambar. Gurunya bertanya, "Kamu sedang menggambar apa?" Anak kecil itu bilang, "Saya sedang menggambar Tuhan." Gurunya bilang, "Tidak mungkin. Siapapun tidak bisa menggambar Tuhan." Anak kecil ini tetap menggambar, "Tunggu saja. Mereka akan tahu, seperti apa Tuhan, setelah gambar ini selesai."
  72.  
  73. Selain mempertimbangkan semua faktor, pikirkan konsekuensi dan kelanjutan gagasan ini dalam kurun waktu mendatang.
  74.  
  75. Pertanyaan dalam CAF dan CS:
  76. + Adakah yang terlewat, belum dimasukkan dalam gagasan ini?
  77. + Apa konsekuensinya?
  78. + Apa yang terjadi nanti?
  79.  
  80. Pernyataan logis dan pengalaman, tidak terbebas dari "waktu".
  81.  
  82. Ada seorang tokoh yang didukung banyak orang, hampir semua gagasannya dibenarkan. 10 tahun yang lalu, ia bilang, akan ada kejadian X. Sekarang, terbukti. Para pendukungnya bilang, "Ini sudah dikatakan olehnya, 10 tahun yang lalu."
  83.  
  84. Bagi saya, tidak demikian. Itu gagasan yang terlambat karena sudah ada yang lebih dulu bilang, hanya saka, para pendukungnya tidak melakukan CAF. Selain itu, pada saat ia bilang, gagasannya nggak relevan.
  85. Kalau saya bilang kelak akan ada wisata ke Mars, dan sekian tahun kemudian akan terwujud, bukan berarti saya hebat. Sama sekali tidak. Elon Musk sudah lama menggagasnya, bahkan fiksi-ilmiah Hollywood sudah lebih dulu membahasnya.
  86.  
  87. CAF dan CS membutuhkan disiplin yang ketat. Semua disiplin-ilmu dipertimbangkan. Ini bisa digunakan untuk membuat analisis utama, in-depth, investigasi, dll.
  88.  
  89. + Bagaimana peta pemerintahan di Jawa bagian tengah pada masa tanam paksa?
  90. + Mengapa Turki Ottoman membantu pasukan Diponegoro?
  91. + Bagaimana sistem verifikasi fakta yang paling bagus untuk melawan hoax dan fake-news?
  92. + Berapa dana yang keluar setiap hari ke luar negeri untuk togel HK, SGP, dan Sydney?
  93.  
  94. CSF dan CS tidak melakukan penghakiman, membuka ruang-ruang bermain bersama, tidak mengandalkan satu sudut pandang..
  95. Membaca Ketat dan Mendengarkan secara komprehensif, logika, lebih banyak memperoleh informasi, mempermasalahkan lebih dalam (question reality), eksperimen (uji hipotesis), dan memilih Informasi.
  96.  
  97. -------
  98. *6 Topi Berpikir*
  99.  
  100. Berpikir itu bertahap, momentual. Tidak bisa serentak. Ketika kamu menguji lemahnya gagasanmu, kamu hanya menguji kelemahan gagasanmu, tidak sambil memikirkan hal lain. Kalau kamu sedang memakai topi hitam, jangan sambil memakai topi lain.
  101. Ada pendekatan bernama "6 Thinking Hats" (6 Topi Berpikir). Bisa digunakan untuk menguji kelayakan suatu gagasan. Misalnya mau mengembangkan bisnis, menulis in-depth, atau rapat redaksi, gunakan metode "6 Topi Berpikir".
  102. Kita menggunakan 6 topi secara bersamaan, sebelum tahu bahwa kita sedang berpikir, tetapi hanya menggunakan 1 topi ketika sedang mengubah cara kita berpikir.
  103. Pada saat berpikir (sendirian atau bersama), lebih dulu, laporkan status. Bagaimana keadaannya? Aap yang sedang terjadi? Kemudian berikan pengertian alternatif.
  104. Berpikir harus punya tujuan: nanti dapat apa setelah memikirkan gagasan ini?
  105. Ada 6 topi: putih, merah, kuning, hitam, hijau, dan biru.
  106. Setelah memahami fungsi dan penerapannya, kamu bisa modifikasi atau tambahkan warna topi lain, sesuai kebutuhan. Ini bukan aturan baku, sekadar pengantar.
  107. Sekarang, pikirkan sebuah gagasan (misalnya: suatu tema dalam menulis atau laporan utama), kemudian uji dengan 6 topi berikut.
  108.  
  109. o) White
  110. Topi putih berkaitan dengan data, fakta, informasi, dan daftar kebutuhan.
  111. Jika ada data, tampilkan dengan model data. Misalnya:
  112. Jika mau bicara tentang perubahan, berarti modelnya "before after" atau "timeline".
  113. Fakta adalah "pernyataan" atas suatu realitas, menurut versi penutur.
  114. Apa saja kalau relevan dan signifikan, masukkan dulu.
  115. Jangan membuat judgement atas data. Pertimbangkan semua faktor, masukkan datanya.
  116. Pertimbangkan daftar kebutuhan. Soal mencoret mana yang tidak penting, itu nanti.
  117. Pengambilan keputusan yang tidak berpijak kepada riset dan data, selalu berarti inefisiensi dan inakurasi.
  118. Yang penting, apa yang masuk saat memakai topi putih harus sudah valid dan verified. Sekali lagi, jangan berasumsi dulu.
  119.  
  120. o) Red
  121. Merah berkaitan dengan "perasaan" (feeling), emosi, dan intuisi. Orang mengkonsumsi bukan karena rasionalitas, lebih banyak karena faktor irasional. Ini kawasan yang sulit dan perlu mendapatkan perhatian.
  122.  
  123. o) Yellow
  124. Kuning berarti nilai dan keuntungan.
  125.  
  126. Contoh berhasilnya pemakaian topi kuning:
  127. Saya ingin membuat tutorial tentang cara menghapus iklan dari browser Google Chrome, yang bisa dipakai kawan-kawan saya, agar kuota mereka tidak cepat habis, bisa browsing lebih cepat, dan cara saya ini lebih mudah daripada tutorial lain yang pernah ada.
  128.  
  129. Topi kuning bertanya:
  130. + Apa manfaatnya?
  131. + Bagaimana kegunaannya bagi publik?
  132. + Apa kerennya ide ini daripada ide sebelumnya?
  133. + Apakah ide ini mengatasi "pain" (rasa sakit) banyak orang?
  134. + Apakah ide ini bisa membuat orang "gain" (mencapai) sesuatu, melampaui fungsi biasa?
  135.  
  136. Saya sering teringat topi kuning itu seperti topi insyinyur. Jadi, topi kuning dalam pikiran saya, perlu satu tambahan: membuat fasilitas (kemudahan). Insyinyur merancang jalan, agar semua mobil bisa melaju cepat dan selamat, tidak peduli ada kepentingan apa di dalam mobil itu. Insyinyur memastikan koneksi internet cepat, tidak peduli dipakai untuk game pubg ataulah streaming.
  137.  
  138. o) Black
  139. Topi hitam dikenal sebagai "blackhat". Istilah untuk pikiran yang bisa mengakali kesulitan (ini berarti hacking), melampaui sistem, mendaftar masalah berbahaya, mengatasi macet, deadlock, chaos, dan pikiran awas.
  140. Berpikirlah sebagai orang jahat agar idemu aman.
  141.  
  142. Topi hitam bertanya:
  143. + Bagaimana semua cara masuk akan kita amankan?
  144. + Jika informasi ini bocor, apa antisipasi kita?
  145. + Bagaimana menembus protokoler agar data X ini bisa kita dapatkan?
  146. + Jika di bagian ini terjadi ide macet, bagaimana cara kita keluar?
  147. + Sistem darurat apa yang akan kita terapkan jika sistem ini mengalami kegagalan?
  148.  
  149. o) Green
  150. Topi hjau berkaitan dengan "memasak".
  151. Topi hijau berarti: kreativitas, kemungkinan, alternatif, solusi, dan gagasan baru.
  152.  
  153. Topi hijau bertanya:
  154. + Ide ini bisa kita apakan?
  155. + Bagaimana alternatifnya?
  156. + Bagaimana kalau logika ini kita lompati?
  157. + Pada kondisi apa kita akan jalankan?
  158. + Gagasan awal kita sudah berubah, bagaimana sebaiknya?
  159.  
  160. o) Blue
  161. Topi biru identik dengan "processor", bagaimana mengelola gagasan, seperti apa sistemnya (alur pemrosesan), dan bagaimana berikutnya. Apa yang akan kita eksekusi.
  162. Topi biru bertanya:
  163. + Bagaimana mengelola proses berpikir?
  164. + Bagaimana sistem ini bisa kita bikin menjadi "standard operating procedure" (SOP) untuk tim ini?
  165. + Bagaimana agar fokus dan mengatasi gangguan sampai selesai?
  166. + Rencana bertindak setelah ini apa?
  167. + Open, Sequence, Close
  168.  
  169. ---
  170.  
  171. Berikutnya, saya akan menjelaskan secara ringkas tentang berpikir convergent, divergent, dan lateral.
  172.  
  173. *Berpikir Convergent*
  174.  
  175. Berpikir convergent itu mengumpulkan fakta-fakta terpilih, lalu menghubungkan dan menyajikan sebuah "jawaban".
  176.  
  177. Berpikir convergent sangat sering disuarakan di dunia akademis.
  178.  
  179. Berpikir convergent itu berpikir logis, kritis, vertikal, analitis, linier.
  180.  
  181. Jika tidak logis, salah. Harap diingat: logika hanyalah salah-satu perangkat formal dalam berpikir.
  182.  
  183. Untuk terbebas dari logika, harus tahu "kesalahan berlogika" dan "bias kognitif".
  184. Spoiler: Tidak ada yang bisa terbebas dari kesalahan-berlogika, sepenuhnya.
  185.  
  186. Cognitive Bias Codex, 2016. http://bit.ly/biascodex
  187. Cognitive Bias, Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Cognitive_bias
  188.  
  189. Convergent disebut berpikir "vertikal" karena berpijak dari perspektif yang tidak boleh diubah. Semacam menara pengawas, nilai-nilai lama, pemahaman atas masa-lalu (kalau dalam penelitian, ini adalah "prior research", kajian pustaka) dan teori-teori yang sudah ada.
  190.  
  191. Convergent itu analitis. Dari sekian banyak fakta kemudian menyajikan suatu "jawaban". Kalau dalam investigative reporting, ini seperti wawancara dan baca referensi, kemudian menjadi "analisis utama".
  192.  
  193. Convergent itu linier. Ada tahapan yang dipatuhi, mekanisme yang tidak bisa dilanggar, seperti urutan berikut: rapat redaksi, penugasan, deadline, editing, layout, posting, distribusi, viralkan di medsos.
  194. Hasilnya sering sudah ketahuan sebelum terjadi.
  195.  
  196. Berpikir convergent masih sering menjadi andalan ketika menulis artikel: menghubungkan fakta kemudian membaca dengan teori.
  197. Hasilnya, sering tidak ada lompatan. Artikel 720 kata, jika disingkat hanya menjadi 1 paragraf, dan cara menulisnya hampir sama dengan orang lain.
  198.  
  199. Tidak jarang, dalam keseharian, orang-orang yang berlabel pintar, tidak bisa melompat dari cara berpikir convergent. Mereka ahli di bidangnya, tetapi gagal dalam cara berpikir yang mendasar.
  200.  
  201. Saya ambil contoh kasus, bagaimana orang sering gagal membersihkan hape dari bloatware dan iklan. Atau tidak tahu bahwa di dunia ini ada situs yang khusus menyediakan aplikasi Android premium di luar Playstore.
  202. Ini masalah yang sering terjadi, pada orang-orang berprofesi pintar, tetapi tidak bisa menerapkan "logika" dalam keseharian mereka.
  203.  
  204. Atau dalam fotografi. Sudah menghasilkan lebih dari 1000 foto dengan camera Android yang punya resolusi 4K, tetapi tidak tahu prinsip dasar fotografi.
  205.  
  206. Berikut ini, beberapa contoh kasus yang menarik untuk berpikir convergent:
  207. + Banjir besar Nuh tidak pernah terjadi.
  208. + Adam bukanlah manusia pertama di bumi.
  209. + Buktikan bahwa 0.9999.. = 1
  210. + Benarkah astronot Amerika mendarat di Bulan?
  211. + Bagaimana cara membuktikan manipulasi foto yang sudah di-upload di Facebook?
  212. Cobalah analisis pernyataan di atas, tanpa mengandalkan Google.
  213.  
  214. *Berpikir Divergent*
  215.  
  216. Berpikir Divergent itu berpikir creative. Menciptakan sesuatu yang baru. Ini bisa berarti: masalah baru. Atau memberikan solusi yang belum terpikirkan sebelumnya. Bukan berarti sama-sekali baru, tetapi bisa berarti: lebih cepat, lebih efisien, lebih kolaboratif.
  217.  
  218. Dalam trilogy Veronica Rooth, yang difilmkan dengan judul-judul sama, diceritakan bagaimana seorang divergent memecahkan masalah.
  219.  
  220. Seorang gadis dimasukkan ke dalam kotak kaca tertutup dan sempit. Air deras dialirkan. Jika tidak bisa keluar, ia akan tenggelam dan kehabisan oksigen. Bagaimana caranya keluar?
  221.  
  222. Banyak kawannya tidak selamat karena berusaha menutup aliran air dan mencari di mana kuncinya.
  223. Divergent berpikir kreatif, horizontal, dan membuka peluang bagi ide untuk "keluar dari kotak".
  224.  
  225. Berpikir divergent tidak terikat pada masalah dan data yang diberikan. Kalau tujuannya keluar dari kotak kaca, tidak harus memakai kunci, jadi keharusan mencari kunci (dan waktu yang terus berdetak bersamaan dengan aliran air yang masuk) bisa jadi tidak berguna. Tidak ada yang bisa membuka kotak kaca itu jika hanya didorong. Bantuan yang ia dapatkan, justru "masalah" bernama "kotak sempit" yang "terbuat dari kaca". Jika didorong tekanannya tidak cukup kuat, ia membiarkan air deras masuk, dan memanfaatkan tekanan itu, untuk ia dorong dengan kaki. Dengan cara itulah ia keluar.
  226.  
  227. Masalah yang kamu identifikasi dengan baik adalah jembatan menuju solusi.
  228. Divergent menggunakan tenaga lawan untuk mengatasi keterbatasan.
  229.  
  230. Divergent cocok bagi orang yang suka memandang masalah dengan cara lain.
  231. Divergent itu tentang keberanian mengambil keputusan sendiri.
  232.  
  233. *Berpikir Lateral*
  234.  
  235. "Later" artinya: nanti, kemudian. Berpikir lateral itu melompat, dari sekarang ke "bagaimana jadinya nanti". Melompat logika (artinya, tidak sepenuhnya menjalani pengujian logis yang ketat). Jadi, berpikir lateral itu proses sekaligus melampaui kotak.
  236.  
  237. Berpikir lateral adalah menyelesaikan masalah melalui pendekatan tak-langsung dan kreatif, menggunakan penalaran yang tidak sepenuhnya jelas dan melibatkan gagasan yang tidak bisa dilakukan melalui logika langkah-demi-langkah.
  238.  
  239. Berpikir lateral berarti berpikir kreatif.
  240. *) Istilah "lateral" dipakai karena makna dari istilah "kreatif" sudah kabur, banyak salah-pakai.
  241.  
  242. Berpikir lateral berusaha menjadi "generatif" (bisa memproses gagasan) dan "konstruktif" (memiliki bangunan-pemikiran yang utuh). Sebaliknya, cara berpikir normal (yang sering terjadi), seringnya hanya "menghakimi", hanya memilih mana yang baik, tanpa pemikiran mendalam, dan mengharuskan sampai pada kesimpulan.
  243.  
  244. _Berpikir lateral tidak harus "benar" dan logis di setiap langkah._
  245.  
  246. *Kegunaan Berpikir Lateral:*
  247. 1. Memproses ide baru, terutama bagi kaum kreatif.
  248. 2. Menyelesaikan masalah (problem solving).
  249. 3. Menilai dan menguji gagasan.
  250. 4. Mencegah perpecahan dan polarisasi
  251.  
  252. *Teknik Formal Berpikir Lateral*
  253.  
  254. Ini alternatif, bisa dipilih salah-satu, bisa pula dikombinasikan, bergantung pada kasus yang dihadap.
  255.  
  256. *Teknik Berpikir Lateral*
  257.  
  258. *Teknik 1 : Memproses Alternatif*
  259.  
  260. Gagasan yang ada sekarang, hanyalah 1 kemungkinan dari sekian banyak cara-pandang.
  261.  
  262. Jangan mencari pendekatan "terbaik" dulu, lebih baik uraikan alternatif apa saja yang bisa dilakukan.
  263.  
  264. Tetapkan pewaktu (timer). Jangan terlalu lama memikirkan suatu alternatif, agar alternatif lain bisa segera dimunculkan. Semakin banyak, pada tahapan ini, semakin baik.
  265.  
  266. *Teknik 2 : Menantang Asumsi*
  267.  
  268. Menantang, bukan menentang. Contoh, ada asumsi: "Selama 10 tahun terakhir, belum ada yang bisa melakukan ini dengan cara yang lebih cepat." Buatlah itu sebagai tantangan.
  269.  
  270. Caranya, dengan mempertanyakan ide dasar dari terbentuknya asumsi itu. Mengapa belum pernah ada yang melakukan lebih cepat? Pikirkan: Dari mana asumsi ini berasal? Siapa saja yang telah mencoba? Bagaimana cara mereka melakukan sebelumnya?
  271.  
  272. Menyalahkan asumsi itu bukan soal memilih, tetapi soal merestrukturisasi pola yang sudah ada.
  273.  
  274. Seringlah Bertanya "Mengapa"
  275.  
  276. Fungsi bertanya "mengapa":
  277.  
  278. 1. Ini adalah jembatan #penghubung, yang membuat gagasanmu lebih #fokus.
  279. 2. Mengetahui #proses pembentukan dan #faktor-faktor yang mempengaruhi suatu asumsi.
  280. 3. Memperoleh informasi.
  281.  
  282. _Ingat: tujuan menantang asumsi adalah "restrukturisasi pola"._
  283.  
  284. *Inovasi*
  285.  
  286. Pemikiran kritis melibatkan identifikasi masalah dan menjelaskan efeknya, sedangkan berpikir lateral itu berkaitan dengan efek pemikiran.
  287.  
  288. Inovasi bukanlah optimasi hal-hal lama, bukan memperbarui cara lama. Inovasi itu soal melampaui fungsi lama.
  289.  
  290. *Menunda Keputusan*
  291.  
  292. Penilaian yang ditangguhkan adalah prasyarat untuk berpikir ke depan.
  293.  
  294. Kita harus menunda semua penilaian ide dan konsep.
  295.  
  296. Seseorang boleh salah dalam perjalanan meskipun pada akhirnya harus benar.
  297.  
  298. Tinggalkan "mencari fakta yang benar untuk membuat kesimpulan yang benar". Ini tindakan positivistik yang hanya mengarah kepada "iya", menuntut selalu benar, dan menutup kreativitas. Kalau orientasinya begini terus, apa yang terjadi ke depan hanyalah perbaikan atas masa lalu.
  299.  
  300. Menunda keputusan dilakukan selama tahap selektif "langkah", ketikanmasih dalam proses.
  301.  
  302. Tindakan "salah" sekarang bisa mengarah ke yang "benar" di kemudian hari.
  303.  
  304. Contoh:
  305. + Marconi berhasil mentransmisikan gelombang nirkabel melintasi samudera Atlantik dengan menindaklanjuti gagasan keliru bahwa gelombang akan mengikuti kelengkungan bumi.
  306. + Nokia beranggapan bahwa orang tidak akan suka memakai fungsi komputer yang dikompresi ke dalam smartphone. Nyatanya, tidak demikian.
  307.  
  308. Ide tidak dinilai dan dievaluasi, melainkan dieksplorasi lebih jauh dan lebih mendalam.
  309.  
  310. Ide itu "salah" ketika tidak dinilai. Ide itu "benar" ketika bisa disalahkan (ini artinya: diuji, layak dibahas, dan diperbaiki)
  311.  
  312. Desain adalah area yang baik untuk mengembangkan ide berpikir lateral. Ada banyak cara untuk menyatakan dan mengeksporasi gagasan. Datanglah ke pameran lukisan tematik, lihatlah cara orang "meraba gajah".
  313.  
  314. *Gagasan Dominan dan Faktor Penting*
  315.  
  316. Semua orang merasa tahu apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka baca, tetapi jika kamu meminta mereka mengusir ide dominan, mereka kesulitan (atau tidak mau) melakukannya.
  317.  
  318. Pilih ide dominan, agar bisa kamu hindari. Pilih pola lama, buatlah pola alternatif.
  319.  
  320. Faktor penting itu membatasi cara melihat masalah.
  321.  
  322. *Fraksinasi (Pemecahan)*
  323.  
  324. Pecah ide itu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Uraikan situasi menjadi komponen-komponenya. Uraikan berita menjadi hanya data. Dengan cara ini, kamu bisa menyusun-ulang bagian-bagian itu, melakukan restrukturisasi pola.
  325.  
  326. *Pembalikan*
  327.  
  328. + Apa yang terjadi kalau susunannya saya balik?
  329. + Bagaimana kalau yang kita bicarakan di dalam ruangan ini, saya lihat dari luar?
  330. + Bagaimana jika kita tunjukkan ada air yang mengalir ke atas?
  331. + Bagaimana kalau kita buktikan pemanasan global itu tidak seperti dalam kampanye Al Gore?
  332.  
  333. *Fungsi Pembalikan*
  334.  
  335. 1. Melihat dari perspektif lain. "Saya" mencoba menjadi "bukan-saya".
  336. 2. Mengacaukan cara-pandang lama, untuk membebaskan informasi agar dapat disatukan dengan cara baru.
  337.  
  338. *Contoh Kasus*
  339. Seekor burung, ingin minum. Untuk terbang ke tanah yang berair, jaraknya terlalu jauh dan tenaganya sangat lemah. Ia hanya menemukan tanah tandus, banyak batu-batu kecil dan kerikil, dan sebuah kendi berisi air. Kepalanya tak muat untuk masuk.
  340.  
  341. _Bagaimana caranya agar ia bisa minum dari kendi itu?_
  342.  
  343. *Analogi*
  344.  
  345. Analogi dalam berpikir lateral tidak digunakan untuk berdebat (adu argumentasi).
  346. Analogi dipakai untuk dikembangkan dan untuk melihat masalah asli dan menghasilkan ide lain.
  347.  
  348. Contoh Kasus:
  349. Jika sekeliling saya berkabut, bagaimana cara saya menemukan jalan?
  350.  
  351. *Titik Masuk dan Area Perhatian*
  352.  
  353. Pikirkan cara orang untuk masuk, agar kamu bisa alihkan perhatian.
  354.  
  355. Di mana orang masuk, di situlah perhatian bermula. Cara-pandang, berasal dari situ.
  356.  
  357. Ketika orang membaca cerita detektif, yang umum terjadi adalah menebak siapa pembunuhnya. Agatha Christie melakukan sesuatu yang lain: ia bercerita sebagai "orang pertama" (memakai "aku", pada salah satu episode di novelnya) dan mengajak pembacanya memikikan "siapa pembunuhnya". Ternyata, Si Pembunuh adalah tokoh "aku" dalam cerita ini.
  358.  
  359. Pada salah satu kasus Sherlock Holmes, ada seekor anjing besar, yang menurut Dr. Watson anjing itu tidak penting karena tidak melakukan apa-apa pada malam kejahatan itu. Sherlock Holmes menunjukkan bahwa arti penting anjing itu adalah ia tidak melakukan apa-apa. Dia mengalihkan perhatian dari pentingnya fakta bahwa itu tidak melakukan apa-apa. Sherlock Holmes tidak mengabaikan hal kecil, karena jika diabaikan, akan kerepotan jika berpikir lagi sejak awal.
  360.  
  361. Perhatikan detail, perhatikan apa yang dianggap tidak penting.
  362.  
  363. Buatlah daftar, fitur apa saja, atau deskripsi apa saja yang bisa kamu dapatkan. Masuki ruangan, pikirkan kira-kira bagian mana saja yang menarik perhatian dan tak-menarik perhatian.
  364.  
  365. *Stimulasi Acak*
  366.  
  367. Ini terjadi ketika diri rangsangan dari luar dan membiarkan diri bertindak atas ide dari luar.
  368. Sering terjadi, namun tidak disadari.
  369.  
  370. Orang mengalami exposure (penyingkapan) dan pemrosesan formal.
  371.  
  372. Bentuknya seperti apa? Menerima input acak (data baru yang menantang data lama), paparan ide lain (dalam diskusi), pendapat dari bidang yang sama sekali berbeda, dan paparan fisik terhadap stimulasi acak (misalnya: datang ke pameran, toko buku, dll.)
  373.  
  374. Membiarkan diri untuk terangsang oleh hal-hal baru.
  375.  
  376. Biarkan "yang lain" memasuki dirimu dan lihat hubungan barumu dengan sesuatu yang baru tersebut.
  377.  
  378. *PO: Provokasi*
  379.  
  380. Po adalah "provokasi". Antara "iya" dan "tidak". Kemungkinan. Ketidakmungkinan. Yang belum masuk "buku besar".
  381.  
  382.  
  383. *Diblokir oleh Keterbukaan*
  384.  
  385. Kebanyakan orang, merasa "cukup". Kebanyakan orang, mencari cara yang "benar" untuk memilih dan melakukan yang benar, namun hasilnya tidak kreatif. Berpikir tidaklah untuk "berhenti".
  386.  
  387. *Penutup*
  388.  
  389. Banyak orang dianggap berpikir tetapi hanya menggunakan informasi atau produk pemikiran orang lain. Berpikir adalah seni sekaligus teknik yang perlu terus dikembangkan sebagai "kemampuan" (skill) yang bisa dilatih setiap saat.
  390.  
  391. Rembang, April 5, 2019 15:54
  392. ---
  393. Day Milovich,,
  394. Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang
RAW Paste Data
We use cookies for various purposes including analytics. By continuing to use Pastebin, you agree to our use of cookies as described in the Cookies Policy. OK, I Understand
Top